Jakarta (tutur.co.id) — Nilai tukar rupiah kembali tertekan mendekati level Rp17.400 per dolar AS pada perdagangan Senin (4/5/2026), seiring penguatan dolar global dan meningkatnya ketidakpastian geopolitik.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menegaskan bahwa pelemahan rupiah bukan hanya terjadi di Indonesia, melainkan juga dialami berbagai negara.
“Pemerintah tentu akan melihat, tetapi terkait pelemahan kurs kan bukan hanya monopoli Indonesia. Berbagai negara menghadapi hal yang sama,” ujarnya di Jakarta.
Di tengah tekanan tersebut, pemerintah mulai memperketat pemantauan terhadap sektor manufaktur nasional yang menunjukkan tanda perlambatan. Menurut Airlangga, ketidakpastian konflik global berdampak langsung terhadap kepercayaan pelaku industri.
“Manufaktur turun karena memang masa depan dari perang ini kan masih tidak pasti,” katanya.
Ia menjelaskan, risiko gangguan rantai pasok berpotensi meluas dari sektor energi ke industri petrokimia, plastik, hingga logistik, yang pada akhirnya dapat menekan kinerja manufaktur domestik.
Sebagai langkah antisipasi, pemerintah membandingkan perkembangan ekonomi Indonesia dengan negara mitra untuk menjaga stabilitas kebijakan.
Berdasarkan data Bloomberg, rupiah di pasar spot pada pukul 15.24 WIB melemah 47 poin atau 0,27% ke level Rp17.384 per dolar AS, sejalan dengan penguatan dolar yang menekan mata uang negara berkembang.

