Yogyakarta (tutur.co.id)- Polemik mengenai wacana pemberian susu formula dalam menu program Makan Bergizi Gratis (MBG) menuai beragam tanggapan dari kalangan tenaga kesehatan. Sejumlah pihak mengingatkan agar kebijakan nutrisi bayi tetap mengacu pada rekomendasi ilmiah dan tidak menggeser pentingnya pemberian ASI eksklusif.
Dokter keluarga, dr. Silvia, menegaskan bahwa dalam perspektif kedokteran keluarga dan kesehatan anak, ASI eksklusif masih menjadi standar emas pemenuhan nutrisi bayi usia 0–6 bulan. Menurutnya, pemberian susu formula sebaiknya hanya dilakukan berdasarkan indikasi medis tertentu, bukan menjadi pendekatan utama secara umum.
“Setiap intervensi nutrisi pada bayi idealnya tetap mengacu pada rekomendasi ilmiah dan pedoman nasional maupun global. Pada bayi usia 0–6 bulan, ASI eksklusif masih menjadi standar emas pemenuhan nutrisi,” ujar dr. Silvia dalam keterangannya kepada Redaksi Tutur, Jumat (22/5).
Ia menilai, hal terpenting dalam penyusunan kebijakan adalah memastikan keberpihakan terhadap tumbuh kembang optimal bayi sekaligus perlindungan praktik menyusui di masyarakat.
Menurutnya, keberhasilan pemenuhan gizi bayi tidak hanya diukur dari kecukupan kalori semata, tetapi juga berkaitan dengan ikatan emosional antara ibu dan anak, pembentukan imunitas, hingga tumbuh kembang jangka panjang.
“Sebagai dokter keluarga yang membersamai segala lintas usia, saya melihat keberhasilan gizi bayi tidak hanya soal kecukupan kalori, tetapi juga ikatan ibu-anak, imunitas, dan tumbuh kembang jangka panjang,” katanya.
Karena itu, ia berharap kebijakan terkait pemenuhan nutrisi bayi ke depan dapat memperkuat praktik menyusui dan tetap menempatkan ASI sebagai pilihan utama.
“Karena itu, kebijakan apa pun ke depannya idealnya memperkuat praktik menyusui, bukan berpotensi menggeser pesan bahwa ASI tetap yang utama,” tutupnya.

