Jakarta (tutur.co.id) — Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies Bhima Yudhistira Adhinegara menilai penguatan pasar ekspor ke negara nontradisional menjadi langkah strategis bagi Indonesia di tengah dinamika global yang kian tidak pasti.
Menurut Bhima, peluang tersebut dapat dioptimalkan melalui implementasi berbagai perjanjian dagang internasional yang telah dijalin Indonesia dalam beberapa tahun terakhir.
“Pemanfaatan pasar Eropa melalui IEU-CEPA dengan standar emisi yang ketat menjadi peluang seperti baja hijau hingga produk perkebunan dengan pemenuhan syarat EUDR,” ujar Bhima, seperti dilansir Antara.
Ia merujuk pada Indonesia-European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement yang dinilai mampu membuka akses lebih luas bagi produk berbasis keberlanjutan, terutama di pasar Uni Eropa yang semakin ketat terhadap standar lingkungan.
Selain Eropa, Bhima menyebut Indonesia juga memiliki peluang besar di pasar nontradisional lainnya, seperti Tunisia melalui Indonesia-Tunisia Preferential Trade Agreement, Amerika Latin melalui Indonesia-Peru Comprehensive Economic Partnership Agreement, hingga Rusia melalui kerja sama dengan Eurasian Economic Union.
“Pengembangan pasar nontradisional ekspor yang paling mendesak salah satunya Amerika Tengah dan Selatan, Rusia, Tunisia, hingga Kepulauan Pasifik seperti Solomon, Fiji dan Vanuatu,” jelasnya.
Meski demikian, Bhima menilai China tetap menjadi pasar ekspor yang sangat potensial, didukung pertumbuhan ekonomi yang relatif stabil dan permintaan domestik yang besar.
“Pengalihan pasar ekspor sebaiknya ke China karena pertumbuhan ekonomi masih terjaga di angka 5 persen. Masih cukup solid ditopang permintaan domestik China yang besar,” katanya.
Ia juga menekankan pentingnya peningkatan daya saing produk nasional melalui diversifikasi, khususnya pada sektor nonmigas.
“Disarankan juga lakukan diversifikasi produk nonmigas seperti modul panel surya hingga bahan baku kosmetik,” tambah Bhima.
Pandangan serupa disampaikan Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics Mohammad Faisal yang menilai daya saing menjadi faktor krusial dalam mempertahankan dan memperluas pasar ekspor.
“Tentu saja faktor yang berpengaruh sekali di sini adalah biaya logistik dan bagaimana hambatan perdagangan yang diterapkan oleh pasar-pasar baru, baik itu tarif maupun nontarif,” ujar Faisal.
Ia menjelaskan, pergeseran rantai pasok global akibat konflik geopolitik, termasuk ketegangan di Timur Tengah, mendorong negara-negara untuk secara simultan mengalihkan pasar ekspor ke kawasan yang lebih aman.
Dengan kondisi tersebut, Indonesia dinilai perlu bergerak cepat dalam memperkuat posisi di pasar global, baik melalui perluasan tujuan ekspor maupun peningkatan kualitas produk agar mampu bersaing di tengah kompetisi yang semakin ketat.

