Jakarta (tutur.co.id) – Hujan yang turun tanpa jeda selama beberapa pekan terakhir kembali mengingatkan kita pada satu kenyataan pahit: banjir masih menjadi “tamu rutin” di sejumlah daerah, termasuk Jakarta. Pada sepekan ini, genangan air tak hanya menutup sejumlah utama dan memicu kemacetan panjang, tetapi juga menyisakan persoalan lain yang kerap luput dari perhatian—kesehatan mental para penyintasnya.
Banjir sering dipahami sebagai peristiwa fisik: air meluap, rumah terendam, harta benda rusak. Namun, di balik itu semua, ada tekanan psikologis yang perlahan mengendap. Dr. Riati Sri Hartini, SpKJ, MSc, psikiater sekaligus dosen Fakultas Kedokteran IPB, menjelaskan bahwa banjir dapat memicu reaksi stres dan kecemasan sebagai respons terhadap pengalaman traumatis yang dialami korban. Tidak jarang, dampak mental ini bertahan lebih lama dibanding surutnya air.
Trauma yang Membekas: Risiko PTSD
Salah satu dampak psikologis yang paling sering muncul pascabanjir adalah Post-Traumatic Stress Disorder (PTSD). Menurut American Psychiatric Association, PTSD dapat terjadi ketika seseorang mengalami atau menyaksikan peristiwa traumatis yang mengancam keselamatan dirinya.
Banjir memaksa banyak orang beradaptasi secara mendadak—kehilangan rumah, rutinitas, bahkan rasa aman. Pada sebagian individu, tekanan ini memicu kecemasan berlebihan, gangguan tidur, kilas balik peristiwa traumatis, hingga perasaan tertekan yang berkepanjangan.
Kecemasan yang Datang Bersama Suara Hujan
Bagi sebagian penyintas banjir, hujan tak lagi sekadar fenomena alam. Suara rintiknya bisa memicu ketakutan yang tak rasional. Jantung berdebar, pikiran sulit fokus, tubuh gelisah—semua menjadi tanda kecemasan yang muncul sebagai respons psikologis atas pengalaman sebelumnya.
Kondisi ini sering kali tidak disadari, bahkan dianggap “berlebihan”. Padahal, kecemasan semacam ini merupakan sinyal bahwa tubuh dan pikiran masih berada dalam mode siaga, seolah bencana bisa terulang kapan saja.
Depresi Akibat Kehilangan
Merujuk pada Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), depresi adalah gangguan mental umum yang ditandai suasana hati murung dan menurunnya minat beraktivitas dalam jangka waktu lama. Dalam konteks banjir, depresi dapat dipicu oleh kehilangan besar—mulai dari harta benda, tempat tinggal, hingga orang tercinta.
Rasa putus asa, lelah secara emosional, dan pandangan negatif terhadap masa depan kerap muncul perlahan. Tanpa dukungan yang memadai, kondisi ini dapat memburuk dan mengganggu kualitas hidup penyintas.
Lebih dari Sekadar Bencana Alam
Banjir bukan hanya soal air yang meluap, tetapi juga soal luka batin yang kerap tersembunyi. Dampak psikologisnya tidak boleh dianggap sepele. Sebagian orang membutuhkan intervensi profesional, sementara yang lain sangat terbantu oleh dukungan sosial dari keluarga dan lingkungan.
Jika Anda atau orang terdekat mengalami tekanan psikologis setelah banjir—merasa cemas berlebihan, sedih berkepanjangan, atau sulit menjalani aktivitas sehari-hari—jangan ragu untuk mencari bantuan tenaga kesehatan jiwa.
Kerugian materi memang nyata. Namun, menjaga kesehatan mental adalah langkah penting agar para penyintas dapat bangkit, bukan hanya membangun kembali rumah, tetapi juga memulihkan rasa aman dan harapan.

