Jakarta (tutur.co.id) – Bulan Ramadhan hingga perayaan Idulfitri identik dengan aktivitas belanja. Berbagai promo menarik kerap bermunculan, mulai dari diskon saat ngabuburit hingga penawaran kilat pada waktu sahur.
Meskipun harga yang ditawarkan terlihat jauh lebih murah, kondisi tersebut juga berpotensi memicu perilaku impulsive buying atau pembelian impulsif.
Secara umum, impulsive buying merupakan tindakan membeli barang secara spontan tanpa perencanaan sebelumnya. Perilaku ini sering kali dipicu oleh dorongan emosional sesaat atau strategi pemasaran yang menciptakan rasa urgensi bagi konsumen.
Dalam kajian psikologi ekonomi, fenomena ini berkaitan dengan konsep present bias, yakni kecenderungan manusia untuk lebih memprioritaskan kepuasan instan dibandingkan tujuan keuangan jangka panjang.
Karena itu, penting bagi masyarakat untuk tetap bijak dalam mengambil keputusan finansial, terutama saat menghadapi gempuran promo selama Ramadhan.
Tips beberapa langkah sederhana yang dapat membantu mengendalikan kebiasaan belanja impulsif selama musim diskon.
1. Berikan Waktu untuk Berpikir (Aturan 24–48 Jam)
Ketika melihat promo menarik, sebaiknya tidak langsung melakukan pembelian. Terapkan aturan menunggu selama 24 hingga 48 jam sebelum membeli barang yang tidak benar-benar mendesak.
Cara sederhana yang bisa dilakukan adalah memasukkan produk ke dalam keranjang belanja daring, lalu menutup aplikasi. Setelah beberapa waktu, keinginan membeli biasanya akan berkurang karena emosi sudah lebih stabil.
2. Buat Daftar Belanja yang Jelas
Belanja tanpa perencanaan sering kali berujung pada pemborosan. Oleh karena itu, penting untuk menyusun daftar kebutuhan sebelum mulai berbelanja.
Daftar tersebut berfungsi sebagai panduan agar tetap fokus pada barang yang benar-benar diperlukan selama Ramadhan dan Idulfitri.
Dengan demikian, konsumen tidak mudah tergoda oleh berbagai produk yang sebenarnya tidak termasuk kebutuhan utama.
3. Ubah Cara Pandang terhadap Diskon
Diskon sering kali dianggap sebagai kesempatan untuk menghemat uang. Namun, dalam banyak kasus, diskon juga bisa menjadi distraksi yang mendorong pembelian tidak perlu.
Sebelum membeli suatu barang, sebaiknya tanyakan pada diri sendiri apakah produk tersebut benar-benar dibutuhkan atau hanya sekadar mengikuti godaan promo.
Strategi pemasaran sering kali menciptakan kesan seolah konsumen akan kehilangan kesempatan jika tidak membeli produk tersebut saat itu juga.
4. Hindari Belanja Saat Lapar atau Emosional
Kondisi fisik dan emosional juga memengaruhi keputusan finansial seseorang. Saat lapar, lelah, atau emosi tidak stabil, kemampuan berpikir rasional cenderung menurun.
Pada situasi tersebut, seseorang lebih mudah mengambil keputusan impulsif untuk mencari kepuasan instan.
Belanja sering kali menjadi pelarian emosional karena memicu pelepasan hormon dopamin yang memberikan rasa senang sementara.
5. Hitung Harga Barang dengan Waktu Kerja
Salah satu cara sederhana untuk menilai suatu pembelian adalah dengan menghitung berapa lama waktu kerja yang diperlukan untuk mendapatkan uang senilai barang tersebut.
Jika harga sebuah produk setara dengan beberapa hari kerja, pertimbangkan kembali apakah manfaatnya sebanding dengan usaha yang telah dilakukan untuk memperoleh penghasilan tersebut.
Mengelola keuangan di tengah maraknya promo bukan berarti membatasi diri secara berlebihan. Sebaliknya, langkah tersebut merupakan upaya untuk menjaga stabilitas finansial dalam jangka panjang.
Bulan Ramadhan dapat menjadi momentum yang tepat untuk melatih disiplin diri, tidak hanya dalam beribadah tetapi juga dalam mengatur pengeluaran.
Dengan pengendalian diri yang baik, masyarakat dapat memanfaatkan momen Ramadhan dan Idulfitri secara lebih bermakna tanpa harus terjebak dalam perilaku konsumtif. (sas)

