Membayangkan Masa Depan NTT dari Geladak Kapal Dharma Rucitra VIII
(Catatan Seorang Wartawan)
Oleh: Agustinus Tetiro
Kapal Motor (KM) Dharma Rucitra VIII bertolak dari Pelabuhan Ippi Ende, Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Kamis (05/02/2026) tepat pukul 13.00 Waktu Indonesia Tengah (Wita) menuju Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya dengan satu perhentian pada Pelabuhan Waingapu, Sumba Timur, NTT. Pelayaran ini memakan waktu hampir 48 jam, karena kami tiba di Surabaya pada Sabtu (07/02/2026) pukul 12.00 Waktu Indonesia Barat (WIB).
Durasi waktu hampir dua hari itu memungkinkan saya bisa lebih leluasa membaca ulang sebuah buku tua terjemahan karya Santo Agustinus berjudul “Pengakuan-Pengakuan” (Confessiones). Tentang isi buku itu nanti kita bahas di kesempatan lain.
Kali ini, saya ingin bercerita tentang beberapa orang tua dan orang muda yang saya temui dan ajak ngobrol selama di atas kapal. Tempat favorit saya ada dua, yaitu kafetaria di lantai empat yang letaknya di geladak kapal dan ruang baca kecil di salah satu sisi di lantai dua.
Baru saja sekitar sepuluh menit kapal meninggalkan Ippi, saya langsung survey kafetaria. Di sana, saya bertemu dengan pasangan suami istri (pasutri) Dokter Gusti Ngasu dan istrinya, Ibu Dokter Muna. Mereka sedang makan siang.
“Di sini nyaman, dek,” jelas Ibu Muna, setelah saya cerita bahwa belum pernah bepergian lagi dengan kapal laut selama lebih dari 16 tahun terakhir.
Pasutri ini memang terlihat sangat menikmati perjalanan. Beberapa kali saya bertemu mereka di kafetaria sedang makan, ngopi dan ngobrol berdua. Romantis di usia tua. Ini pasti jadi impian kita semua.
****
Sore hari di kafetaria yang sama, saya nimbrung ngobrol dengan tiga anak muda asal Nagekeo, dua perempuan dan seorang laki-laki. Anisa, Berto dan Cici. Ketiganya bukan nama sebenarnya. Mereka minta kalau jadi tulisan, nama mereka sebaiknya disamarkan. Oke, fine!
Anisa adalah mahasiswi semester delapan pada ilmu radiologi Universitas Airlangga Surabaya. Berto belajar Desain Komunikasi Visual (DKV) di UPN Veteran Jawa Timur di Surabaya. Cici adalah mahasiswi pascasarjana (S2) di Teknik Sipil UGM Yogyakarta. Anisa dan Cici adalah alumnae SMA Syuradikara Ende, Berto lulusan SMA Negeri 1 Aesesa Mbay.
Kami ngopi sambil bercerita. Ketiga anak muda ini rupanya memang suka ngobrol. Pada pertemuan pertama, kami bercerita banyak tentang anak SD di kampung Dona, Jerebu’u, Ngada yang bunuh diri karena tidak bisa membeli buku dan pena. Kami berempat terlihat sedih selama sharing tentang kisah YBR.
Pada pertemuan berikutnya, kami membahas tema yang lebih luas misalnya soal studi dan peluang-peluang yang bisa diraih oleh anak-anak muda kalau mereka memutuskan pulang ke Flores. Anisa bilang kalau dia mungkin akan melanjutkan studi hingga ke jenjang S2 dan akan berkarya beberapa waktu di rumah sakit-rumah sakit besar di Jawa sebelum pulang ke Mbay.
Cici bilang kalau belum ada peluang di Nagekeo, dia mungkin akan cari kerja di Jawa. Berto bercerita kalau dirinya sedang melihat peluang yang bisa dikembangkan kalau nanti disuruh orang tuanya pulang ke Mbay atau Flores.
“Orang seperti kami tidak bisa asal pulang. Karena, beda dengan dokter yang bisa buka praktik, kami sebagai radiographer sangat bergantung pada alat kesehatan yang ada pada rumah sakit atau fasilitas kesehatan setempat,” jelas Anisa.
Cici juga bilang, kalau pulang ke Flores dan belum jadi pegawai negeri sipil/aparatur sipil negara (PNS/ASN), peluang yang bisa dibuat adalah dengan menjadi konsultan. Itu juga pilihan yang tidak mudah.
“Semua tergantung orang dalam,” sahut Berto dan Anisa hampir bersamaan setelah mendengarkan Cici. Saya tersenyum mendengar komentar lepas itu.
*****
Di ruang baca yang nyaman, saya bertemu 4 orang muda lain. Tiara, anak Wolowona alumna SMAN 1 Ende sedang belajar Fisika Murni di Universitas Brawijaya Malang, Us alumnus SMA Frater Maumere belajar Kimia Murni di UGM, Maria Pankratia—seorang praktisi literasi yang kini aktif di Bacapetra Ruteng dan Dewan Kesenian Jakarta (DKJ), dan Satria, seorang anak kelas IV SD di salah satu sekolah di Kupang yang sedang izin dari sekolahnya untuk berlibur ke Surabaya.
“Ikut Bapa ke Surabaya, kasihan Bapa sendirian terus,” jelas Satria. Ayahnya seorang tentara, yang sesekali datang mengecek anaknya membaca sambil sesekali memelototi kami. Apakah Om pikir orang dewasa yang suka baca, alien, kah? Hahaha!
Kami tidak banyak ngobrol, karena masing-masing sibuk dengan buku dan bacaannya. Hanya, saya sesekali mengecek apa yang dibaca Tiara dan Us. Us terlihat beberapa kali membaca komik. Tiara sibuk dengan buku-buku fisika dan teknik mesin yang memang ada di ruang baca itu.
Menarik bahwa suatu kali Maria Pankratia meminta kami memperhatikan pembagian rak buku (shelving) yang dibuat di ruang baca itu. Ada bagian buku perempuan, anak-anak dan laki-laki. Pada bagian perempuan ada koleksi buku-buku agama, motivasi pengembangan diri, kuliner, dan fashion. Pada bagian laki-laki ada otomotif, tour&travel, teknik mesin, sejarah&tokoh, dan peta.
Maria yang memang pada dasarnya nyentik berkomentar, “Mereka pikir perempuan tidak suka mesin dan laki-laki tidak suka fashion. Hahaha”
Beberapa kali datang ke ruang baca memang amat menyenangkan, terutama saat kapal sedang berada di tengah lautan yang tanpa signal untuk alat komunikasi.
****
Kami tiba di Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya. Pada bagian geladak yang menuju deretan tangga turun dari lantai empat, saya berkenalan dengan dua pasutri lansia lain. Bapak pensiunan tenaga pendidik di Syuradikara Ende bersama istrinya.
Mereka akan melanjutkan perjalanan ke Yogyakarta untuk menghadiri wisuda puterinya yang baru menyelesaikan kuliah pascasarjana (S2) Pendidikan Biologi di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Sang anak menyalami saya.
“Mau jadi guru atau dosen dimana nanti setelah wisuda?”
Belum tahu, jawabnya. Masih mau beberapa saat di Yogyakarta sambil melihat peluang pekerjaan yang baik.
Dari geladak kapal itu, saya mengingat apa yang ditulis Santo Agustinus pada bukunya yang lain The City of God. Bahwa, ziarah hidup manusia seperti kita sedang naik kapal: ada yang memasang arah ke kota Allah yang penuh kedamaian. Ada yang salah arah ke kota dunia yang penuh kekacauan babilonik.
*****
Pengalaman 48 jam di atas KM Dharma Rucitra VIII membuat saya sedikit merenung tentang betapa potensialnya manusia-manusia masa depan NTT. Ini tentu tidak bisa menjadi generalisasi yang adil untuk menilai.
Akan tetapi, jika pemerintah, agama, dan masyarakat adat bisa membuat pengakuan-pengakuan atas kelemahan-kelemahan kita selama ini dalam memastikan masa depan anak yang baik, maka tidak boleh ada kisah seperti YBR lagi. Kita semua layak malu untuk kisah pilu ini.
“Kita tidak pernah miskin kepedulian,” kata Gubernur Leka Lena. Ini harus jadi imperatif moral bagi kita semua.
Gereja lokal juga telah lama menggagas komunitas basis ramah anak. Kearifan-kearifan lokal tradisional kita berbicara kencang tentang gotong-royong. Kemana semua ajaran baik ini menguap?!
Sebagian orang tua kita telah memastikan pendidikan yang baik untuk anak-anaknya. Kita membutuhkan solidaritas: menjadi orang tua, menjadi saudara, bagi anak-anak lain yang kurang beruntung. Jangan memelihara iri-hati antartetangga. Tidak boleh menyuburkan ketidakpedulian!
Tugas pemerintah adalah memastikan bahwa anak-anak kita yang bersekolah baik seperti Anisa, Berto, Cici, Tiara, Us, dan mereka-mereka yang kita belum tahu namanya seperti sang calon guru biologi itu mendapatkan tempat pengabdian yang benar di NTT ataupun membawa nama NTT mengabdi di tempat lain di luar NTT.
Tugas pemuka agama, tokoh adat dan kita semua adalah terus membangun komunitas moral yang baik untuk tumbuh kembang anak. Mendorong aktualisasi diri mereka secara optimal. Membantu mereka yang tidak beruntung dan termarginalkan. Memanusiakan manusia.
Agar, kita semua nanti ketika lansia bisa berbangga dan layak menjadi panutan seperti pasutri Dokter Gusti-Ibu Muna dan orang tua yang bangga seperti pasutri pensiunan sekolah misi di atas. Terhadap anak-anak kita, terhadap apa yang kita perjuangkan untuk masa depan NTT.
Ayo Bangun NTT!

