Jakarta (tutur.co.id)– Pengamat politik sekaligus Direktur Eksekutif Lingkar Madani, Ray Rangkuti menilai pengelolaan Badan Gizi Nasional (BGN) harus diserahkan kepada orang profesional.
Selama ini ia menilai Prabowo kerap memilih orang yang memiliki kedekatan politik. Kritik ini menyusul setelah digelarnya rapat tertutup BGN dengan Komisi IX DPR RI yang dinilai justru menambah ketidakpercayaan publik.
“Sudah semestinya BGN itu dikelola secara profesional. Cari aja orang-orang yang profesional, digaji mahal untuk itu. Bukan orang yang dipilih berdasarkan politik, tapi betul-betul berdasarkan pemahaman, pengetahuan dia, ilmu dia soal tata kelola BGN,” ujar Ray saat dihubungi Redaksi, Selasa 16 Juni 2026.
Saat disinggung soal terpilihnya Nanik Sudaryati Deyang sebagai Kepala BGN yang baru, ia tak mau berkomentar lebih. Namun ia menekankan BGN harus diisi oleh orang-orang profesional.
Ray mengingat kegagalan pengelolaan BGN sebelumnya yang dipilih berdasarkan kedekatan politik. Terungkapnya skandal korupsi yang melibatkan 3 pucuk kepala BGN terkait tata kelola dapur Makan Bergizi Gratis (MBG).
“Apa enggak cukup yang kemarin itu? Dipilih berdasarkan kedekatan politik, diserahkan ke TNI, diserahkan ke Polisi, diserahkan ke orang yang pernah jadi tim sukses. Nah, jadinya seperti yang kemarin,” tutupnya.
Diberitakan sebelumnya Presiden Prabowo melantik Nanik sebagai Kepala BGN baru usai Kejagung mengungkap praktik korupsi yang melibatkan eks Kepala BGN Dadan Hindayana beserta dua orang wakilnya.
Terpilihnya Nanik sempat menjadi sorotan lantaran dinilai dipilih bukan karena rekam jejak profesional melainkan berdasarkan kedekatan politik.
Bahkan dalam aksi demonstrasi mahasiswa, turut menyesali keputusan Prabowo tidak memilih orang-orang profesional untuk menahkodai lembaga yang fokus dalam urusan pemberian makan bergizi kepada seluruh anak-anak di Indonesia.
“Prabowo dengan program Makan Bergizi Gratis (MBG) merugikan banyak uang negara yang baru-baru ini sedang terjadi di kubu BGN. Apa yang dilakukan Prabowo bukan memilih orang yang berkompeten malah memilih orang yang berlatar belakang sebagai media,” kata sang orator mahasiswa Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Bung Karno, Senin 15 Juni 2026.

