Jakarta (tutur.co.id) – Demo ekonomi di Iran yang pecah pada 28 Desember 2025 adalah kelanjutan dari luka lama—yang lebih dulu dirasakan perempuan, lalu menjalar ke seluruh masyarakat. Masih ingatkah kasus Mahsa Amini, yang mendorong gelombang besar demo di Iran 2022?
Demo yang terjadi di Iran terus meluas memang terjadi dan dipicu oleh krisis ekonomi. Di mana harga kebutuhan pokok melonjak, mata uang melemah, dan hidup terasa makin sulit bagi banyak keluarga. Namun, kemarahan publik ini tidak muncul dari ruang kosong.
Beberapa tahun terakhir, terutama setelah kasus Mahsa Amini, perempuan Iran berada di garis depan pengalaman ketidakadilan. Tubuh perempuan menjadi ruang paling awal tempat negara menunjukkan kuasanya—lewat hijab yang wajib, patroli moral, dan kontrol kehidupan sehari-hari. Apa yang dialami perempuan-perempuan lebih dulu, kini dirasakan lebih luas oleh masyarakat Iran.
Bagi banyak warga Iran, terutama perempuan, isu ekonomi dan kebebasan adalah hal yang tidak dapat dipisahkan. Sangat sulit membicarakan harga pangan tanpa membicarakan rasa takut. Sulit membicarakan pekerjaan tanpa membicarakan batasan dalam hidup. Saat ruang personal terus mendapatkan tekanan, tekanan ekonomi menjadi pemicu ledakan yang lebih besar.
Perempuan Iran mungkin tidak selalu terlihat di barisan depan demo hari ini, tetapi pengalaman mereka membentuk kesadaran kolektif. Gerakan “Woman, Life, Freedom” meninggalkan jejak: keberanian untuk mempertanyakan, tidak hanya berdiam.
Konteks di atas mengingatkan bahwa ketenangan beriman dan hidup sering kali bertumpu pada satu hal sederhana yaitu adanya pilihan.
Saat sebuah pilihan itu diambil oleh negara—baik atas tubuh, suara, atau penghidupan—maka protes akan hadir. Cepat atau lambat, protes akan menemukan jalannya.

