Jakarta (tutur.co.id) – Berenang di danau atau area perairan alami sering menjadi pilihan saat cuaca panas. Airnya yang terlihat jernih dan alami membuat banyak orang menganggap aktivitas ini aman. Namun, para ahli kesehatan mengingatkan bahwa danau air tawar juga bisa menjadi habitat berbagai parasit dan mikroorganisme yang berpotensi menyebabkan penyakit pada manusia.
Dilansir dari Verywell Health, danau air tawar memang tidak otomatis berbahaya, tetapi berbeda dengan kolam renang yang biasanya disaring dan diberi disinfektan. Danau merupakan lingkungan alami yang dapat mengandung parasit, bakteri, maupun virus, terutama pada air yang hangat, tergenang, atau setelah hujan deras. Risiko infeksi memang tergolong rendah, tetapi tetap perlu diwaspadai.
Salah satu organisme yang paling sering menjadi perhatian adalah Naegleria fowleri, yang kerap dijuluki “amoeba pemakan otak”. Parasit ini dapat masuk ke tubuh melalui hidung saat seseorang berenang atau menyelam di air tawar hangat. Meski kasusnya sangat langka, infeksi yang ditimbulkannya hampir selalu berakibat fatal karena menyerang jaringan otak.
Selain itu, ada pula parasit seperti Giardia dan Cryptosporidium yang lebih sering ditemukan. Keduanya biasanya masuk ke tubuh ketika seseorang tanpa sengaja menelan air yang terkontaminasi. Infeksi dapat menyebabkan diare, kram perut, mual, hingga dehidrasi. Pada sebagian besar orang gejalanya dapat sembuh sendiri, tetapi pada kelompok rentan kondisi ini bisa menjadi lebih serius.
Bahaya lain yang cukup umum adalah swimmer’s itch atau gatal perenang. Kondisi ini terjadi akibat larva parasit tertentu yang hidup pada siput dan burung air. Ketika larva tersebut bersentuhan dengan kulit manusia, dapat muncul ruam merah dan rasa gatal yang mengganggu. Meski biasanya tidak berbahaya dan akan hilang sendiri, kondisi ini tetap bisa membuat aktivitas berenang menjadi tidak nyaman.
Lalu apakah masyarakat harus berhenti berenang di danau? Para ahli menegaskan jawabannya tidak. Risiko infeksi dapat dikurangi dengan beberapa langkah sederhana, seperti menghindari air yang terlihat kotor atau tergenang, tidak menelan air saat berenang, serta menghindari air masuk ke hidung. Berenang setelah hujan deras juga sebaiknya dihindari karena kualitas air bisa menurun akibat kontaminasi dari lingkungan sekitar.
Pada akhirnya, danau tetap bisa menjadi tempat rekreasi yang aman selama masyarakat memahami potensi risikonya. Air yang terlihat bersih belum tentu bebas dari mikroorganisme. Karena itu, mengenali cara penularan parasit dan menerapkan langkah pencegahan sederhana menjadi cara terbaik agar aktivitas berenang tetap menyenangkan sekaligus aman bagi kesehatan.

