Close Menu
tutur.co.idtutur.co.id
  • Beranda
  • Politik & Hukum
    • Politik
    • Hukum
    • Keamanan
    • Daerah
    • Wawancara
  • Ekbis
    • Energi & Tambang
    • Finance
    • Makro
    • Mikro
    • Ekonomi Hijau
    • Market
  • Otomotif
    • Motor
    • Mobil
    • Aksesori
    • Industri
  • Opini
    • Opini
    • Tutur PoV
  • Lifestyle
    • Perempuan
    • Fashion
    • Health
    • Techno
  • Sport
  • Video
Facebook X (Twitter) Instagram
tutur.co.idtutur.co.id
  • Beranda
  • Politik & Hukum
    • Politik
    • Hukum
    • Keamanan
    • Daerah
    • Wawancara
  • Ekbis
    • Energi & Tambang
    • Finance
    • Makro
    • Mikro
    • Ekonomi Hijau
    • Market
  • Otomotif
    • Motor
    • Mobil
    • Aksesori
    • Industri
  • Opini
    • Opini
    • Tutur PoV
  • Lifestyle
    • Perempuan
    • Fashion
    • Health
    • Techno
  • Sport
  • Video
Indeks
Trending
  • Tahunnya Rusia Pamer Kekuatan, Gelar Latihan Militer Estafet
  • Wasit Slavko Vincic: Pertanda Baik Spanyol atau Mimpi Buruk Argentina?
  • Bukan Punya Febrie, Emas 74 Kg dan Uang Rp476 M Milik Yayasan Dakwah
  • BPH Migas: Antrean BBM di SPBU Medan Berangsur Normal
  • Laporan Gratifikasi Ditolak, KPK Akan Panggil Menhut Raja Juli
  • Telkom Perkuat Kolaborasi AI Nasional Lewat AIcosystem di InnoVibes 2026
  • Mencari Akhir yang Manis
  • Beberkan Kejanggalan Kasus Febrie, Hotman: Ada Sesuatu yang Dikejar
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok
tutur.co.idtutur.co.id
Home»Health»Studi Genetik: Peran Gen SLC25A1 dalam Penuaan dan Gangguan Perkembangan

Studi Genetik: Peran Gen SLC25A1 dalam Penuaan dan Gangguan Perkembangan

Health Ridzka Putri Ananda22 April 2026 / 03:24 WIB
Facebook Twitter LinkedIn Email WhatsApp
Ilustrasi mekanisme mutasi gen SLC25A1 yang memicu penuaan sel dini dan gangguan perkembangan organ. (Foto: Tutur/Ilustrasi AI)
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

Jakarta (tutur.co.id) – Penelitian terbaru jurnal Nature Publishing Group membuka wawasan baru tentang bagaimana satu gen dapat memengaruhi proses penuaan dan perkembangan tubuh manusia. Studi ini lebih spesifik menyoroti peran gen SLC25A1, yang ternyata sangat penting dalam menjaga fungsi sel dan organ sejak tahap embrio.

Ketika gen ini tidak aktif, dampaknya bisa sangat luas, mulai dari gangguan perkembangan hingga percepatan penuaan sel. Temuan ini menjadi salah satu langkah penting dalam memahami mekanisme biologis yang selama ini belum sepenuhnya terungkap.

Dalam penelitian tersebut, ilmuwan menemukan bahwa hilangnya fungsi gen SLC25A1 dapat memicu kondisi yang disebut cellular senescence atau penuaan sel dini. Kondisi ini menyebabkan sel berhenti berkembang dan mulai menunjukkan tanda-tanda kerusakan. Tidak hanya itu, proses ini juga berkaitan dengan aktivasi protein penting bernama p53, yang dikenal sebagai penjaga stabilitas genetik.

Aktivasi berlebihan dari mekanisme ini justru dapat menghambat pertumbuhan sel secara normal.
Guna mendukung studi ini, juga telah diterapkan pada model tikus untuk melihat dampak langsung dari tidak aktifnya gen tersebut.

Hasilnya cukup signifikan, di mana terjadi gangguan pada berbagai organ seperti otak, jantung, hingga struktur wajah. Bahkan, beberapa kasus menunjukkan kelainan serius seperti tidak berkembangnya bagian tubuh tertentu. Hal ini menunjukkan bahwa gen SLC25A1 memiliki peran krusial dalam proses perkembangan embrio.

Selain itu, para peneliti menemukan adanya perubahan metabolisme dalam tubuh ketika gen ini tidak berfungsi. Salah satu dampaknya adalah penumpukan zat tertentu yang dapat mengganggu keseimbangan energi sel. Kondisi ini juga berkaitan dengan menurunnya kadar NAD+, molekul penting yang berperan dalam produksi energi dan kesehatan sel. Perubahan ini semakin memperkuat hubungan antara genetik, metabolisme, dan proses penuaan.

Baca Juga  Suspek Hantavirus Warga Kulon Progo, Hasil Lab Telah Keluar

Menariknya, penelitian ini juga membuka peluang baru dalam dunia medis, terutama terkait terapi penyakit genetik. Dengan memahami mekanisme yang terjadi, ilmuwan mulai melihat kemungkinan untuk memperbaiki kondisi tersebut, misalnya dengan meningkatkan kadar NAD+ atau mengurangi zat berbahaya dalam sel. Pendekatan ini berpotensi menjadi dasar pengembangan terapi di masa depan. Bahkan, strategi ini dinilai dapat membantu mengatasi beberapa penyakit langka yang selama ini sulit ditangani.

Menurut peneliti utama dalam studi ini, Maria Laura Avantaggiati, gen SLC25A1 berperan sebagai penghubung penting antara metabolisme dan pertumbuhan sel. Ia menekankan bahwa memahami cara kerja gen ini bisa membuka jalan bagi pengobatan yang lebih efektif. Dengan temuan ini, para ilmuwan kini memiliki dasar yang lebih kuat untuk mengeksplorasi terapi baru. Ke depan, riset lanjutan diharapkan mampu membawa manfaat nyata bagi dunia kesehatan dan pengobatan modern.

fungsi gen genetik ilmuwan kelainan genetik penelitian studi
Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
Previous ArticleTransisi Besar Otomotif Dunia: EV Melejit, Nissan Pangkas Model, Tesla Ubah Strategi
Next Article Waspada Silent Killer: Risiko Diabetes Usia Muda Melonjak, Tanpa Gejala!

Berita Lainnya

Penelitian Terbaru, Desain Mobil Masa Kini Lebih Berbahaya bagi Keselamatan

24 Juni 2026 / 16:42 WIB

Resep MPASI untuk Bayi 6 Bulan ke Atas, Lengkap dengan Panduan Pemberian yang Tepat

24 Juni 2026 / 09:22 WIB

Jengkol dan Petai Mana yang Lebih Sehat? Kenali Perbedaan hingga Penyebab Bau Khasnya

23 Juni 2026 / 09:46 WIB

7 Cara Menghilangkan Bau Amis pada Ikan dengan Bahan Sederhana, Mudah Dipraktikkan di Rumah

20 Juni 2026 / 09:22 WIB

Broken Home: Luka Keluarga yang Tak Selalu Terlihat, Tapi Berdampak Panjang

19 Juni 2026 / 09:14 WIB

Leunca, Lalapan Khas Sunda yang Disukai Banyak Orang, Ternyata Kaya Nutrisi

18 Juni 2026 / 09:02 WIB
Form Komentar Cancel Reply

Waisak 2026, Menag Ajak Umat Buddha Tebarkan Cinta Kasih dan Jaga Perdamaian

Ahmad Nuryaman31 Mei 2026 / 18:11 WIB

Tahunnya Rusia Pamer Kekuatan, Gelar Latihan Militer Estafet

18 Juli 2026 / 14:19 WIB

Wasit Slavko Vincic: Pertanda Baik Spanyol atau Mimpi Buruk Argentina?

18 Juli 2026 / 13:30 WIB

Bukan Punya Febrie, Emas 74 Kg dan Uang Rp476 M Milik Yayasan Dakwah

18 Juli 2026 / 13:07 WIB

BPH Migas: Antrean BBM di SPBU Medan Berangsur Normal

18 Juli 2026 / 12:45 WIB

Laporan Gratifikasi Ditolak, KPK Akan Panggil Menhut Raja Juli

18 Juli 2026 / 11:50 WIB

Copyright @ PT Tutur Media Digital

Bertutur Berdasar Fakta dan Data

Instagram TikTok X (Twitter) YouTube Facebook

Tentang
Redaksi
Alamat dan Kontak
Kode Perilaku Perusahaan

Disclaimer
Kode Etik
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.