Jakarta (tutur.co.id) — Prospek nilai tukar rupiah ke depan dinilai masih dibayangi ketidakpastian, meski sentimen positif sempat muncul dari kesepakatan gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran.
Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede menilai dampak kesepakatan tersebut lebih bersifat menahan tekanan dibanding mendorong penguatan signifikan.
“Kesepakatan ini masih jauh dari penyelesaian. Ujian sesungguhnya tetap pada apakah lalu lintas kapal di Selat Hormuz benar-benar kembali normal,” ujarnya seperti dilansir Antara, Rabu (8/4/2026).
Menurut Josua, jika gencatan senjata hanya bersifat sementara, harga minyak berpotensi bertahan di kisaran US$100 per barel sebagai “normal baru”, alih-alih kembali ke level sebelum konflik.
“Saya melihat kabar ini memberi bantalan positif bagi rupiah, tetapi lebih sebagai penahan tekanan daripada pendorong penguatan besar,” katanya.
Ia mencatat, pasca pengumuman gencatan senjata, harga minyak Brent turun sekitar 16% ke US$91,70 per barel dan WTI melemah 14%. Selain itu, indeks dolar AS juga terkoreksi, sementara imbal hasil obligasi AS menurun dan ekspektasi penurunan suku bunga Federal Reserve kembali meningkat.
Kombinasi tersebut membantu meredakan tekanan terhadap rupiah, terutama dari sisi impor energi dan arus modal. Namun, menurut Josua, sentimen ini belum cukup kuat untuk membalik arah pergerakan rupiah secara tegas.
“Sentimen ini cukup berarti untuk mencegah pelemahan yang lebih dalam dalam jangka sangat pendek,” ujarnya.
Tekanan Eksternal Masih Membayangi
Dari sisi domestik, tekanan juga masih terasa. Bank Indonesia mencatat arus keluar modal asing (outflow) sebesar US$1,1 miliar pada Maret 2026, seiring meningkatnya ketegangan global.
Dalam skenario ke depan, Josua menilai ruang kebijakan moneter semakin terbatas. Jika harga minyak bertahan tinggi dan rupiah melemah, arah kebijakan bahkan bisa bergeser lebih ketat.
“Dalam kondisi ketegangan geopolitik berkepanjangan, skenario paling realistis bukan penguatan tajam, tetapi rupiah bertahan lemah di kisaran Rp16.900–Rp17.100 per dolar AS,” jelasnya.
Meski demikian, peluang penguatan tipis masih terbuka jika normalisasi distribusi energi global benar-benar terjadi dan tekanan eksternal mereda.
Rupiah Diproyeksi Fluktuatif
Sejalan dengan itu, Direktur PT Traze Andalan Futures Ibrahim Assuaibi memproyeksikan pergerakan rupiah masih fluktuatif dalam jangka pendek.
“Untuk perdagangan besok, rupiah diperkirakan bergerak fluktuatif namun berpotensi ditutup melemah di rentang Rp17.010–Rp17.040,” ujarnya.
Ia menambahkan, pelaku pasar masih mencermati perkembangan di Selat Hormuz serta rilis data inflasi Amerika Serikat yang akan menjadi indikator arah kebijakan moneter global.
Di sisi lain, sentimen domestik relatif positif. Realisasi pendapatan negara hingga Maret 2026 mencapai Rp574,9 triliun atau tumbuh 10,5% secara tahunan, yang turut menopang kepercayaan pasar.

