Jakarta (tutur.co.id) — Nilai tukar rupiah diperkirakan bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah pada perdagangan Rabu, 15 April 2026, di tengah ketidakpastian global dan memanasnya tensi geopolitik.
Pada perdagangan Selasa (14/4/2026), rupiah ditutup melemah 22 poin terhadap dolar AS ke level Rp17.127, setelah sempat tertekan hingga 50 poin dari posisi penutupan sebelumnya di Rp17.105.
Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, memperkirakan pergerakan rupiah masih akan berada dalam tekanan. Ia memproyeksikan mata uang Garuda bergerak fluktuatif dan berpotensi ditutup melemah di kisaran Rp17.120 hingga Rp17.170 per dolar AS.
Menurut Ibrahim, tekanan terhadap rupiah dipicu oleh dinamika geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran. Meski demikian, munculnya sinyal potensi dialog antara kedua negara sedikit meredakan kekhawatiran pasar terkait gangguan pasokan energi, khususnya dari jalur strategis Selat Hormuz.
Sebelumnya, tekanan terhadap rupiah meningkat setelah militer AS memperluas blokade di Selat Hormuz hingga mencakup Teluk Oman dan Laut Arab. Langkah ini memicu respons keras dari Iran yang mengancam akan menargetkan pelabuhan negara-negara di kawasan Teluk, menyusul gagalnya perundingan yang berlangsung di Pakistan.
Di sisi lain, pelaku pasar cenderung mengambil posisi wait and see di tengah ketidakpastian arah konflik dan dampaknya terhadap ekonomi global.
Chief Economist Bank Permata, Josua Pardede, menilai prospek rupiah dalam jangka pendek masih tertekan. Kegagalan AS dan Iran mencapai kesepakatan damai mendorong pasar kembali ke mode risk-off, di mana investor cenderung mengalihkan dana ke aset aman seperti dolar AS.
Ia menjelaskan, kondisi tersebut berpotensi mendorong kenaikan harga minyak serta memperlemah mata uang negara-negara pengimpor energi, termasuk di kawasan Asia.
“Arah utamanya cukup jelas: dolar AS kembali dicari sebagai aset aman, harga minyak berpotensi naik, dan tekanan terhadap aset berisiko berlanjut,” ujarnya.
Menurutnya, besarnya tekanan pasar akan sangat ditentukan oleh persepsi investor, apakah kegagalan negosiasi ini hanya bersifat sementara atau justru menandai eskalasi konflik yang lebih panjang.

