Jakarta (tutur.co.id) — Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa membantah anggapan bahwa pelemahan nilai tukar rupiah hingga mendekati level Rp18.000 per dolar AS dipicu oleh memburuknya kondisi fiskal pemerintah. Menurut dia, narasi yang menyebut kebijakan fiskal berjalan serampangan tidak sesuai dengan kondisi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang justru menunjukkan perbaikan.
“Enggak ada. Anda pasti menuduh kebijakan fiskal, kan? Banyak yang bilang gara-gara fiskalnya berantakan,” ujar Purbaya saat ditemui di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (3/6/2026).
Pernyataan tersebut disampaikan di tengah meningkatnya tekanan terhadap rupiah yang pada perdagangan Rabu ditutup melemah 0,71% ke level Rp17.966 per dolar AS. Pelemahan mata uang Garuda itu memicu berbagai spekulasi di pasar mengenai kondisi fundamental ekonomi nasional.
Purbaya menegaskan kondisi fiskal Indonesia masih berada dalam jalur yang sehat. Ia mengungkapkan bahwa kinerja APBN hingga Mei 2026 menunjukkan perkembangan yang lebih baik dibandingkan bulan sebelumnya. Defisit anggaran tercatat sekitar 0,7%, sementara surplus primer kembali berada di zona positif.
Selain itu, penerimaan pajak juga menunjukkan pertumbuhan yang kuat. Menurut dia, realisasi penerimaan pajak meningkat lebih dari 22% dibandingkan periode yang sama tahun lalu, sehingga memberikan ruang yang cukup bagi pemerintah untuk menjaga stabilitas fiskal.
“Kalau saya kasih bocoran, itu defisitnya tinggal 0,7 dalam 5 bulan. Kalau saya enggak salah hitung ya, 1,7%-1,8% dari PDB. Jadi kalau di situ anggaran kita aman sekali,” kata Purbaya.
Ia menilai tekanan terhadap rupiah dalam beberapa hari terakhir lebih banyak dipengaruhi sentimen pasar dan berbagai rumor yang berkembang di kalangan pelaku pasar keuangan. Salah satu isu yang sempat beredar adalah kabar bahwa pemerintah meminta perbankan melakukan stress test apabila nilai tukar rupiah menembus level Rp18.000 per dolar AS.
Purbaya menegaskan informasi tersebut tidak benar dan tidak pernah menjadi bagian dari kebijakan pemerintah.
Menurutnya, pelemahan rupiah saat ini tidak mencerminkan memburuknya fundamental ekonomi Indonesia. Pemerintah tetap optimistis kondisi APBN yang terjaga, penerimaan negara yang meningkat, dan defisit fiskal yang terkendali akan menjadi penopang stabilitas ekonomi nasional di tengah tingginya ketidakpastian global.
“Jadi kalau ada isu pemerintah kebijakannya ngawur, fiskalnya ugal-ugalan, enggak begitu. Kita makin bagus. Nanti saya kasih tahu di APBN Kita,” tegas Purbaya.

