Miami (Tutur.co.id) – Timnas Inggris mengakhiri kiprahnya di Piala Dunia 2026 dengan kemenangan dramatis 6-4 atas Prancis pada laga perebutan tempat ketiga, MInggu (19/7/2026) pukul 04.00 WIB. Hasil ini memastikan The Three Lions pulang dengan medali perunggu, namun juga memunculkan pertanyaan besar mengenai pendekatan taktik yang diterapkan pelatih Thomas Tuchel sepanjang turnamen.
Setelah tampil terlalu hati-hati saat kalah 1-2 dari Argentina di semifinal, Inggris justru memperlihatkan wajah yang sama sekali berbeda ketika menghadapi Prancis. Bermain jauh lebih menyerang dan tanpa rasa takut, mereka mampu mencetak enam gol dalam salah satu pertandingan paling menghibur di Piala Dunia 2026.
Inggris Menggila di Babak Pertama
Inggris langsung mengambil inisiatif sejak menit awal pertandingan. Gol pembuka lahir melalui tendangan jarak jauh Declan Rice, sebelum Ezri Konsa menggandakan keunggulan bahkan sebelum pertandingan memasuki menit ke-20.
Dominasi The Three Lions berlanjut menjelang turun minum. Bukayo Saka mencetak dua gol dalam waktu singkat untuk membawa Inggris unggul telak 4-0 saat jeda.
Namun, Prancis menunjukkan karakter pantang menyerah. Dua gol Kylian Mbappe ditambah satu gol Bradley Barcola membuat Les Bleus memangkas ketertinggalan menjadi hanya satu gol sebelum jeda pendinginan kedua.
Meski sempat menekan habis-habisan, Prancis tidak pernah berhasil menyamakan kedudukan. Inggris kembali mencetak dua gol tambahan, sementara Prancis hanya mampu membalas sekali lagi hingga pertandingan berakhir dengan skor 6-4. Skor tersebut mencerminkan jalannya laga yang berlangsung terbuka, penuh peluang, dan minim kompromi dari kedua tim.
Wajah Inggris yang Sangat Berbeda
Kemenangan atas Prancis sekaligus menampilkan sisi lain dari tim asuhan Thomas Tuchel. Berbeda dengan semifinal melawan Argentina, ketika Inggris lebih banyak bertahan dan membiarkan lawan mengendalikan permainan, kali ini mereka tampil agresif sejak menit pertama. Pendekatan menyerang itu membuat lini belakang Prancis terus berada di bawah tekanan.
Meski demikian, kemenangan ini juga memunculkan penyesalan. Banyak pendukung Inggris mempertanyakan mengapa gaya bermain seberani ini tidak diterapkan saat menghadapi Argentina di semifinal.
Andaikan The Three Lions tampil lebih ofensif sejak awal, bukan tidak mungkin mereka mampu mengakhiri penantian panjang untuk kembali tampil di final Piala Dunia.
Terlambat Menemukan Formula Terbaik
Penampilan impresif Inggris atas Prancis memang layak diapresiasi, tetapi kritik terhadap Thomas Tuchel dipastikan belum akan mereda. Saat menghadapi Argentina, Inggris dinilai terlalu pasif dan membiarkan Albiceleste mengembangkan permainan.
Tuchel sendiri sebelumnya mengakui para pemainnya secara naluriah memilih mundur ketika menghadapi tekanan Argentina. Namun, banyak pihak menilai pelatih asal Jerman itu gagal membantu timnya keluar dari rasa gugup tersebut.
Sebaliknya, saat melawan Prancis, Inggris memperlihatkan keberanian menyerang yang nyaris sempurna. Performa ofensif itu membuat banyak pengamat bertanya-tanya bagaimana hasil semifinal seandainya pendekatan serupa diterapkan ketika menghadapi Lionel Messi dan kawan-kawan.
Modal Berharga Menuju Euro 2028
Meski gagal mencapai final, kemenangan atas Prancis tetap memberikan sejumlah pelajaran penting bagi Inggris. Keberanian menyerang yang mereka tunjukkan diyakini layak dijadikan fondasi permainan menuju Euro 2028, ketika Inggris akan menjadi salah satu tuan rumah bersama Republik Irlandia.
Namun, Tuchel juga harus segera membenahi lini pertahanan. Kebobolan empat gol dalam satu pertandingan menunjukkan masih ada banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan.
Sulit memastikan apakah rapuhnya pertahanan Inggris murni disebabkan oleh kelemahan taktik atau karena pertandingan perebutan tempat ketiga tidak memiliki tekanan sebesar semifinal maupun final. Yang jelas, Inggris kini mengetahui bahwa mereka memiliki kualitas menyerang yang mampu bersaing dengan tim-tim terbaik dunia.
Era Baru Menanti Inggris dan Prancis
Piala Dunia 2026 menjadi akhir dari satu babak penting bagi kedua negara.
Di kubu Prancis, era Didier Deschamps telah berakhir. Federasi Sepak Bola Prancis dipastikan menunjuk Zinedine Zidane sebagai pelatih baru untuk memimpin Les Bleus memasuki siklus berikutnya. Sementara itu, Inggris akan langsung mengalihkan fokus ke Euro 2028.
Sebagai salah satu tuan rumah turnamen, The Three Lions dipastikan lolos otomatis. Thomas Tuchel kini memiliki waktu untuk mengevaluasi perjalanan di Piala Dunia 2026 dan membangun tim yang lebih berani, lebih konsisten, serta mampu memaksimalkan potensi besar yang dimiliki para pemainnya.
Kemenangan spektakuler 6-4 atas Prancis menjadi penutup yang manis bagi Inggris di Piala Dunia 2026. Namun bagi banyak pendukung The Three Lions, kemenangan itu juga meninggalkan satu pertanyaan yang mungkin akan terus menghantui hingga empat tahun ke depan, mengapa keberanian bermain seperti ini baru muncul setelah mimpi menjadi juara dunia sudah berakhir?

