Jakarta (Tutur.co.id) – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa membebeberkan beberapa indikator perekonomian Indonesia masih dalam kondisi baik-baik saja. Hal itu disampaikan Menkeu saat memenuhi undangan Komisi XI DPR untuk membahas kinerja penerimaan negara pada triwulan I tahun anggaran 2026.
“Meski tekanan yang kita alami bertubi-tubi. Di awal tahun ada MSCI lalu ada lagi Lembaga pemeringkat, saat sudah agak tenang kini ada perang di Timur Tengah. Ini merupakan tantangan yang amat signifikan bagi APBN dan perekonomian kita,” kata Yudhi di Gedung DPR, Senin 6 April 2026.
Lebih lanjut Purbaya menambahkan, meski beruntun mendapat tekanan namun secara umum kondisi perekonomian Indonesia masih relatif stabil. Ada beberapa indikator yang digunakan Purbaya untuk membuktikan perekonomian Indonesia masih baik-baik saja.
“Stabilitas tersebut tercermin pada berbagai indikator utama. Hal ini terefleksi antara lain dari aktivitas sektoral yang positif. Industri manufaktur terus ekspansif dalam delapan bulan berturut-turut. Di PMI di bulan Maret memang agak turun sedikit ke 50,1 karena mereka takut akan dampak dari perang di Teluk terhadap ekonomi negara kita. Tapi di bulan Februari dia naik ke 53. Saya pikir ini hanya sebentar saja, begitu kita bisa yakinkan bahwa ekonomi tidak terpengaruh secara signifikan, PMI juga akan rebound dengan signifikan lagi,” beber Purbaya.
Begitu juga dengan harga yang relatif terkendali, lanjut Purbaya dimana inflasi konsisten dalam rentang target yang mencerminkan efektivitas koordinasi kebijakan moneter dan fiskal dalam menjaga daya beli masyarakat.
“Inflasi pada bulan Maret mencapai 3,48 persen year-on-year. Ini ada dampak diskon listrik tahun lalu yang tidak dihitung oleh BPS, karena emang angka inflasi seperti itu. Tapi kalau kita keluarkan, karena pengaruh dari kenaikan subsidi listrik tahun lalu, inflasi di bulan Maret itu hanya 2,51 persen, jadi masih relatif terkendali,” kata Purbaya.
Ditambahkan Purbaya, untuk sektor eksternal juga tetap solid, di mana neraca perdagangan mencatatkan surplus secara berkelanjutan, mendukung posisi cadangan devisa yang memadai. Posisi cadangan devisa setara 5,9 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah. Jauh di atas roll of time level aman global, yaitu di sekitar 3 bulan.
“Likuiditas perekonomian cukup dengan base money yang tumbuh mendekati 20% year on year pada pekan ketiga bulan Maret. Ini mendukung intermediasi perbankan, sehingga kredit tetap tumbuh tinggi. Pada saat sekarang, kredit investasi tumbuh hingga 20,7%. Ini mengindikasikan aktivitas usaha yang kondusif,” kata Purbaya.

