Jakarta (tutur.co.id) — Otoritas keuangan memperkirakan tekanan suku bunga global belum akan mereda dalam waktu dekat. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai era higher for longer berpotensi berlangsung lebih lama, seiring meningkatnya ketegangan geopolitik dan perubahan ekspektasi kebijakan moneter global.
Ketua Dewan Komisioner OJK, Friderica Widyasari Dewi, menyatakan bahwa ekspektasi pasar terhadap arah kebijakan Federal Reserve (The Fed) kini berubah signifikan.
“Pasca eskalasi konflik Iran, ekspektasi pasar bergeser ke skenario tidak adanya pemangkasan suku bunga di 2026,” ujar perempuan yang akrab disapa Kiki dalam konferensi pers Rapat Dewan Komisioner Bulanan, Senin (6/4/2026).
Menurutnya, kondisi ekonomi Amerika Serikat saat ini masih dibayangi tekanan inflasi yang berkelanjutan serta dinamika ketenagakerjaan. Padahal sebelumnya, pasar sempat memperkirakan adanya satu kali pemangkasan suku bunga sepanjang tahun ini.
Dampak Geopolitik dan Energi
OJK menilai eskalasi konflik di Timur Tengah, khususnya yang melibatkan Iran dengan Amerika Serikat dan Israel, berpotensi meningkatkan risiko pada sistem keuangan global.
Kiki menjelaskan, transmisi risiko tersebut terjadi melalui tiga jalur utama, yakni pasar keuangan (financial market channel), kenaikan harga energi, serta jalur langsung melalui perdagangan dan investasi.
“Tingginya ketidakpastian global dan tekanan harga energi mempersempit ruang kebijakan moneter bank sentral global, sekaligus memperkuat ekspektasi higher for longer,” jelasnya.
Kenaikan harga energi juga dinilai berpotensi menambah tekanan inflasi global, yang pada akhirnya membuat bank sentral lebih berhati-hati dalam melonggarkan kebijakan.
China Tumbuh Positif, Namun Tetap Waspada
Di sisi lain, China menunjukkan kinerja ekonomi yang lebih baik dari ekspektasi pasar. Peningkatan ini didorong oleh perbaikan sisi permintaan dan penawaran, serta dukungan stimulus di sektor keuangan.
Namun demikian, pemerintah China tetap menurunkan target pertumbuhan sebagai langkah antisipatif terhadap tantangan struktural dan ketidakpastian global yang masih berlangsung.
Stabilitas Keuangan RI Tetap Terjaga
Meski tekanan global meningkat, OJK memastikan stabilitas sektor jasa keuangan Indonesia masih terjaga dengan baik. Sejumlah kebijakan yang telah diterapkan dinilai masih relevan untuk menjaga kepercayaan pasar.
Kebijakan tersebut meliputi buyback saham tanpa melalui rapat umum pemegang saham (RUPS), penundaan implementasi pembiayaan transaksi short selling, penerapan trading halt, hingga penyesuaian batasan auto rejection.
“OJK terus memantau pergerakan pasar serta berkoordinasi dengan self-regulatory organization dalam mengambil langkah kebijakan yang diperlukan,” ujar Kiki.
Dengan meningkatnya ketidakpastian global dan potensi suku bunga tinggi yang bertahan lebih lama, pelaku pasar diharapkan tetap waspada serta adaptif dalam merespons dinamika ekonomi yang terus berkembang.

