Jakarta (tutur.co.id) — Aktivitas pasar modal Indonesia masih menunjukkan geliat positif di tengah dinamika global. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat terdapat 53 antrean (pipeline) penawaran umum hingga 31 Maret 2026, termasuk 15 perusahaan yang bersiap melaksanakan initial public offering (IPO).
Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK, Hasan Fawzi, menyampaikan bahwa pasar modal tetap menjadi salah satu sumber pembiayaan utama bagi korporasi.
“Hingga akhir Maret 2026 secara year to date, nilai fundraising di pasar modal telah mencapai Rp51,96 triliun. Terdapat 53 rencana penawaran umum dalam pipeline kami,” ujar Hasan dalam konferensi pers, Senin (6/4/2026).
Capaian tersebut mencerminkan minat korporasi yang masih tinggi untuk memanfaatkan pasar modal sebagai alternatif pendanaan, meski di tengah tekanan eksternal dan volatilitas pasar.
Penggalangan Dana dan Instrumen Alternatif
Selain IPO dan penawaran umum lainnya, OJK juga mencatat perkembangan pada skema pembiayaan alternatif. Penggalangan dana UMKM melalui Securities Crowdfunding (SCF) mencapai Rp18,07 miliar hingga akhir Maret 2026.
Di sisi lain, aktivitas perdagangan derivatif juga menunjukkan peningkatan, dengan total volume transaksi mencapai 34.480 lot dan frekuensi transaksi sebanyak 308.260 kali.
Untuk perdagangan karbon, minat pelaku pasar juga mulai tumbuh. Hingga akhir Maret, tercatat sebanyak 153 pengguna jasa dengan volume transaksi mencapai 43.117 ton CO₂e dan nilai transaksi sebesar Rp93,71 miliar.
OJK Waspadai Dinamika Global
Di tengah kondisi global yang penuh ketidakpastian, OJK menegaskan akan terus memantau perkembangan pasar serta menjaga stabilitas sistem keuangan.
“OJK terus memantau pergerakan pasar serta berkoordinasi dengan self-regulatory organization dan pelaku usaha untuk mengambil langkah kebijakan yang diperlukan,” jelas Hasan.
Langkah ini dinilai penting untuk memastikan pasar modal tetap resilien dan mampu mendukung pertumbuhan ekonomi nasional.

