Jakarta (tutur.co.id) — Presiden Prabowo Subianto menargetkan pertumbuhan ekonomi Indonesia menembus bahkan melampaui 8 persen pada 2026. Target ambisius tersebut disampaikan dalam forum Economic Outlook 2026 yang digelar di Wisma Danantara, Jumat (13/2/2026).
Di hadapan jajaran menteri, pelaku usaha, dan ekonom, Prabowo menegaskan bahwa pemerintah tidak boleh ragu memasang target tinggi.
“Harus bisa lebih dari 8 persen. Percaya sama saya, kalian sendiri akan kaget. Bagaimana CEO Danantara? Harus tegas jawab ‘Siap!’,” ujarnya.
Birokrasi Harus Cepat dan Berani
Presiden menilai lompatan pertumbuhan hanya dapat dicapai jika birokrasi bekerja lebih cepat dan berani mengambil keputusan strategis. Ia mengingatkan agar pemerintah tidak terjebak pada proses kajian yang berlarut-larut sehingga menghambat eksekusi kebijakan.
Menurutnya, berbagai persoalan struktural ekonomi nasional sudah teridentifikasi dengan jelas. Karena itu, yang dibutuhkan saat ini adalah keberanian dalam implementasi dan konsistensi kebijakan.
Pesan tersebut sekaligus menjadi sinyal percepatan reformasi birokrasi dan deregulasi untuk mendukung investasi serta meningkatkan produktivitas nasional.
Reformasi Aset Negara dan Target ROA
Prabowo juga mengaitkan target pertumbuhan ekonomi di atas 8 persen dengan reformasi pengelolaan aset negara. Ia meminta entitas pemerintah dan BUMN mampu menghasilkan return on asset (ROA) minimal 7 persen, bahkan lebih tinggi.
Menurut dia, kekayaan negara tidak boleh menganggur dan harus dioptimalkan untuk mendorong pertumbuhan serta memperkuat kapasitas fiskal.
Optimalisasi aset, lanjutnya, menjadi bagian dari strategi pembiayaan pembangunan tanpa membebani anggaran secara berlebihan.
Tantangan Realisasi Target 8 Persen
Secara historis, pertumbuhan ekonomi Indonesia dalam satu dekade terakhir berada di kisaran 5 persen. Untuk melompat ke level 7–8 persen, dibutuhkan lonjakan investasi, peningkatan produktivitas tenaga kerja, hilirisasi industri yang agresif, serta stabilitas fiskal yang terjaga.
Target pertumbuhan ekonomi 8 persen pada 2026 kini menjadi indikator utama arah kebijakan pemerintahan Prabowo. Pasar akan mencermati apakah ambisi tersebut mampu diterjemahkan menjadi realisasi konkret melalui reformasi struktural dan percepatan investasi.

