Aceh Tamiang (tutur.co.id) – Hujan dan gemuruh air yang datang tanpa ampun pada akhir November 2025 itu masih terpatri kuat di ingatan Siti Rahma. Warga Kampung Sukajadi, Kabupaten Aceh Tamiang, itu tak pernah menyangka sungai yang selama ini akrab dengan hidupnya akan berubah menjadi arus yang merenggut rumah dan rasa aman keluarganya.
Selama bertahun-tahun, Siti terbiasa hidup berdampingan dengan sungai. Air pasang dan surut bukan hal asing. Namun malam itu berbeda. Air tak hanya meluap, tapi terus naik, merangsek masuk, hingga akhirnya menyapu bersih rumah yang selama ini menjadi tempat berteduh dan berkumpul. “Saat malam tiba, rumah kita sudah tersapu banjir. Rumah kami sudah tidak ada lagi,” kenangnya lirih.
Aceh Tamiang merupakan wilayah terdampak parah bencana banjir bandang yang terjadi pada akhir November 2025. Berdasar data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), jumlah pengungsi korban banjir di Kabupaten Aceh Tamiang mencapai 150 ribu jiwa lebih. Warga terpaksa mengungsi, meninggalkan puing-puing rumah dan memulai hari-hari panjang di posko pengungsian dengan segala keterbatasan.
Siti dan keluarganya adalah bagian dari arus manusia yang bertahan di Posko Pengungsian Jembatan Kuala Simpang. Selama hampir sebulan, mereka hidup berdesakan, bergantung pada bantuan, sambil memupuk satu harapan sederhana: kembali memiliki ruang untuk memeluk keluarga tanpa rasa cemas setiap kali hujan turun.
Harapan itu akhirnya berlabuh. Kamis (8/1) menjadi hari yang tak akan mudah Siti lupakan. Ia dan keluarganya meninggalkan posko dan melangkah ke sebuah hunian sementara—huntara—yang meski tak permanen, memberinya kembali rasa pulang. “Kami alhamdulillah, senang sekali karena dapat rumah hunian sementara dari bapak Presiden,” ujarnya dengan mata berbinar.
Siti kini menempati salah satu dari 600 unit huntara yang dibangun Danantara Indonesia bersama BUMN Karya untuk warga terdampak banjir Aceh Tamiang. Huntara ini menjadi jembatan harapan bagi keluarga-keluarga yang kehilangan segalanya, sembari menunggu kehidupan yang lebih tetap.

Hunian itu jauh dari kesan darurat yang dingin dan asing. Setiap unit dilengkapi pintu dan jendela untuk sirkulasi udara, dua tempat tidur, lemari, kipas angin, serta meja makan sederhana. Jalan antarblok ditata dengan rumput buatan, pot tanaman hijau berdiri di depan pintu—detail kecil yang memberi rasa manusiawi setelah trauma panjang.
Rasa syukur serupa juga diucapkan Yati, warga lain yang kini bisa kembali menutup pintu di malam hari tanpa takut air datang tiba-tiba. “Alhamdulillah, kami senang sekali karena bisa berteduh sama keluarga,” katanya.
Di balik dinding-dinding huntara itu, Aceh Tamiang masih menyimpan luka akibat banjir. Namun dari ruang-ruang sederhana itulah, harapan perlahan dirajut kembali—bahwa kehilangan tak selalu berujung pada keputusasaan, selama masih ada tempat untuk pulang dan keluarga untuk dipeluk.

