Jakarta (tutur.co.id) — Pasar Surat Berharga Negara (SBN) diproyeksikan tetap menjadi instrumen investasi yang atraktif sepanjang 2026. Kombinasi disiplin fiskal pemerintah, inflasi yang terjaga, serta tren pelonggaran moneter global dinilai menjadi katalis utama yang berpotensi mendorong penurunan imbal hasil (yield) ke level yang lebih rendah.
Analis Pendapatan Tetap PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) Ahmad Nasrudin menilai daya tarik SBN Indonesia masih kompetitif di mata investor global. Hal tersebut tidak terlepas dari kombinasi yield yang relatif tinggi dan fundamental kredit yang solid dibandingkan negara peers dengan peringkat setara.
“Investor global saat ini mencari keseimbangan antara yield yang menarik dan risiko kredit yang terkendali. SBN Indonesia tetap unggul karena menawarkan imbal hasil lebih tinggi dibandingkan negara BBB lain seperti Filipina dan Thailand,” tutur Ahmad, Minggu (18/1/2026).
Ahmad menambahkan, disiplin fiskal pemerintah menjadi faktor kunci. Rasio utang pemerintah yang berada di kisaran 40,48% dinilai jauh lebih sehat dibandingkan India, Filipina, maupun Thailand, sehingga memperkuat persepsi risiko Indonesia di mata investor internasional.
Dari sisi global, Ahmad menilai keberlanjutan arus masuk modal asing ke pasar SBN akan sangat dipengaruhi oleh siklus pelonggaran moneter Federal Reserve. The Fed diperkirakan akan memangkas suku bunga hingga ke level 3,5%, seiring inflasi AS yang semakin terkendali. Kondisi tersebut membuka ruang bagi penurunan yield obligasi global, termasuk di pasar domestik.
Dengan inflasi Indonesia yang tetap berada dalam sasaran 2,5% ±1%, Ahmad memproyeksikan yield SBN tenor 10 tahun berpotensi turun menuju 5,8% pada akhir 2026, dibandingkan rata-rata 2025 yang berada di level 6,02%.
“Ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed dan kebijakan moneter Bank Indonesia yang relatif akomodatif akan menekan yield domestik. Dari sisi fiskal, yield yang lebih rendah akan menurunkan biaya dana pemerintah, sementara bagi investor berpotensi memberikan capital gain,” jelasnya.
Dalam jangka pendek, Ahmad memperkirakan pergerakan yield masih cenderung fluktuatif. Untuk pekan mendatang, yield SBN tenor 10 tahun diproyeksikan bergerak di rentang 6,15%–6,30%. Pada periode 12–14 Januari 2026, investor asing tercatat melakukan jual neto SBN sebesar Rp8,15 triliun, dipicu meningkatnya tensi geopolitik global yang mendorong sikap risk-off.
Prospek Lelang SUN
Terkait lelang Surat Utang Negara (SUN) Januari 2026, Ahmad memproyeksikan minat investor tetap solid dengan bid-to-cover ratio di kisaran 1,5–2,5 kali. Dengan asumsi tersebut, total penawaran diperkirakan mencapai Rp49,5 triliun hingga Rp82,5 triliun, melampaui target kebutuhan pembiayaan pemerintah.
Meski demikian, ia mengingatkan potensi rotasi aset ke pasar saham atau obligasi korporasi dapat membatasi agresivitas permintaan. Namun, di tengah ketidakpastian global yang masih tinggi, SBN tetap dipandang sebagai instrumen safe haven.
Dari sisi seri, tenor panjang seperti FR0107 (jatuh tempo 2045) dan FR0106 (2040) diperkirakan menjadi incaran utama investor karena menawarkan kupon tertinggi sebesar 7,125%. Sementara itu, seri SPN01260221 yang jatuh tempo Februari 2026 dinilai menarik bagi investor yang mengutamakan likuiditas jangka pendek.
Sejalan dengan itu, Ekonom CORE Indonesia Yusuf Rendy Manilet menilai dinamika pasar SBN saat ini sangat dipengaruhi oleh dua faktor utama, yakni arah kebijakan suku bunga The Fed dan stabilitas domestik, khususnya inflasi serta nilai tukar rupiah.
“Selama pasar melihat ruang pelonggaran moneter masih terbuka dan inflasi domestik terkendali, yield SUN cenderung turun. Sebaliknya, tekanan pada rupiah atau kenaikan yield global akan mendorong investor meminta imbal hasil yang lebih tinggi,” ujar Yusuf.
Adapun untuk pasar obligasi korporasi, Yusuf menilai prospeknya pada 2026 masih positif. Kebutuhan refinancing serta ekspansi usaha diperkirakan menjaga penerbitan obligasi tetap aktif, terutama dari emiten dengan peringkat menengah hingga atas, seiring minat investor yang masih kuat terhadap instrumen pendapatan tetap domestik.
Namun, kompetisi dengan SBN dan risiko global membuat penurunan spread berlangsung terbatas. Investor diperkirakan makin selektif dan fokus pada sektor defensif serta kualitas kredit yang kuat.
Untuk lelang SUN pada Selasa, 20 Januari 2026, dengan target indikatif Rp 33 triliun, Yusuf menilai peluang oversubscribed masih terbuka. Apalagi, likuiditas awal tahun yang relatif longgar menjadi katalis tambahan.
“Seri dengan tenor menengah-panjang tetap menjadi favorit karena menawarkan keseimbangan antara risiko durasi dan imbal hasil, serta memiliki likuiditas tinggi di pasar sekunder,” pungkasnya.

