Jakarta (Tutur.co.id) – Ketua Umum Perkumpulan Industri Kendaraan Listrik Indonesia (Periklindo), Moeldoko, menegaskan bahwa para pengguna kendaraan listrik atau electric vehicle (EV) banyak memberikan kontribusi luas bagi keluarga, lingkungan, dan negara.
Menurutnya, manfaat pertama dari penggunaan EV dirasakan langsung oleh rumah tangga. Ia mencontohkan perbedaan signifikan antara biaya bahan bakar kendaraan konvensional dan listrik.
“Biasanya saya mengeluarkan sekitar Rp6 juta per bulan untuk bensin, tetapi dengan EV hanya sekitar Rp800 ribu. Sisa uang itu bisa dimanfaatkan untuk kebutuhan keluarga,” ujarnya dalam acara Tutur Economic Dialogue 2026 di Hotel Le Meridien, Jakarta, Selasa (7/4/2026).
Penghematan tersebut, lanjut Moeldoko, tidak hanya dirasakan individu, tetapi juga sektor korporasi. Perusahaan yang beralih ke kendaraan listrik berpotensi menekan biaya operasional secara signifikan.
Kontribusi kedua berkaitan dengan aspek lingkungan. Penggunaan EV dinilai mampu mengurangi emisi karbon dan polusi udara, sehingga berkontribusi pada perbaikan kualitas lingkungan.
Ia menekankan bahwa langkah ini penting dalam mendukung target Net Zero Emission (NZE) 2060. Dengan berkurangnya emisi, kualitas udara menjadi lebih baik, yang pada akhirnya berdampak pada kesehatan masyarakat.
“Kalau masyarakat sehat, beban pemerintah terhadap anggaran kesehatan, termasuk BPJS (Kesehatan), juga bisa berkurang,” katanya.
Sementara itu, kontribusi ketiga menyasar sektor fiskal negara. Dengan meningkatnya penggunaan kendaraan listrik, kebutuhan subsidi bahan bakar minyak (BBM) yang saat ini mencapai sekitar Rp191 triliun dapat ditekan.
“Artinya, pengguna EV juga membantu pemerintah mengurangi beban subsidi,” jelasnya.
Moeldoko menilai, dengan tiga kontribusi tersebut, pemerintah perlu terus memberikan insentif bagi pengguna kendaraan listrik. Ia mendorong agar program subsidi untuk pembelian kendaraan listrik dapat dilanjutkan.
Menurutnya, insentif tersebut pada akhirnya akan kembali memberikan manfaat bagi negara, termasuk dalam menjaga stabilitas ekonomi dan menekan inflasi.
Lebih jauh, ia juga menyoroti hubungan antara perkembangan kendaraan listrik dengan pertumbuhan ekonomi nasional. Penghematan konsumsi rumah tangga dinilai dapat dialihkan ke sektor yang lebih produktif, sehingga mendorong peningkatan Produk Domestik Bruto (PDB).
Di sisi lain, industri EV juga membuka peluang investasi yang semakin luas, baik dari dalam maupun luar negeri. Beberapa produsen seperti BYD dan Wuling telah membangun fasilitas produksi di Indonesia sebagai bagian dari ekspansi industri kendaraan listrik.

