Jakarta (tutur.co.id) — Singapura kembali menegaskan posisinya sebagai mitra investasi terbesar Indonesia. Sepanjang 2025, negara kota itu menjadi penyumbang realisasi investasi asing paling besar dengan nilai mencapai US$ 17,4 miliar. Angka tersebut menempatkan Singapura jauh di atas negara lain, sekaligus mencerminkan arah investasi asing yang kian terkonsentrasi pada sektor-sektor berbasis sumber daya dan hilirisasi.
Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Rosan Roeslani menyebut, mayoritas investasi Singapura mengalir ke industri logam dasar dan barang logam, bukan mesin dan peralatan.
“Memang kalau kita lihat, Singapura ini (investasinya) di industri logam dasar, barang logam, bukan mesin peralatannya,” ujar Rosan dalam konferensi pers di Kementerian Investasi dan Hilirisasi, Jakarta Selatan, Kamis (15/1/2026).
Secara keseluruhan, realisasi investasi yang masuk ke Indonesia sepanjang 2025 mencapai Rp 1.931,2 triliun, tumbuh 12,7 persen secara tahunan (year on year). Dari jumlah tersebut, Penanaman Modal Asing (PMA) menyumbang 46,6 persen atau setara Rp 900,9 triliun. Angka ini menegaskan peran investor global yang masih dominan dalam menopang laju investasi nasional.
Selain Singapura, Hong Kong dan China juga masuk dalam jajaran investor terbesar dengan nilai masing-masing US$ 10,6 miliar dan US$ 7,5 miliar. Malaysia dan Jepang melengkapi lima besar negara penanam modal asing terbesar di Indonesia.
Hilirisasi dan Sektor Ekstraktif Mendominasi
Data BKPM menunjukkan, minat investor asing sepanjang 2025 masih kuat pada sektor-sektor yang berkaitan langsung dengan hilirisasi dan ekstraksi sumber daya alam. Industri logam dasar, barang logam, bukan mesin dan peralatan menempati posisi teratas dengan nilai investasi asing mencapai US$ 14,6 miliar.
Sektor pertambangan berada di posisi kedua dengan US$ 4,7 miliar, disusul jasa lainnya sebesar US$ 4,5 miliar. Industri kimia dan farmasi menyerap investasi US$ 3,8 miliar, sementara sektor transportasi, pergudangan, dan telekomunikasi menarik dana sekitar US$ 3,3 miliar.
Jika digabungkan antara PMA dan Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN), industri logam dasar tetap menjadi sektor dengan realisasi terbesar, mencapai Rp 262 triliun. Di belakangnya, sektor transportasi, gedung, dan telekomunikasi mencatatkan Rp 211 triliun, pertambangan Rp 199,6 triliun, jasa lainnya Rp 170,5 triliun, serta perumahan dan kawasan industri serta perkantoran Rp 140,4 triliun.
Dominasi sektor logam dan pertambangan memperlihatkan keberlanjutan strategi hilirisasi yang selama ini didorong pemerintah. Namun, pada saat yang sama, pola ini juga menimbulkan pertanyaan lama: sejauh mana arus modal besar ini mampu mendorong diversifikasi ekonomi dan penciptaan nilai tambah yang lebih luas di luar sektor ekstraktif.
Perumahan dan Kawasan Industri Mulai Naik Daun
Ke depan, Rosan melihat pergeseran minat investor mulai terbentuk. Sektor perumahan dan kawasan industri diproyeksikan menjadi bintang baru investasi, seiring dengan program Presiden Prabowo Subianto yang menargetkan pembangunan 3 juta rumah.
“Investasi bidang perumahan, baik dalam dan luar negeri, sudah terlihat di pipeline akan meningkat cukup signifikan. Ini disebabkan karena program Bapak Presiden,” kata Rosan.
Ia menambahkan, peningkatan minat juga terlihat pada kawasan industri, yang dinilai akan ikut terdorong oleh kebutuhan perumahan, infrastruktur, dan aktivitas manufaktur. Dua sektor ini bahkan berpotensi menggeser dominasi sektor-sektor lain dalam waktu dekat.
Optimisme tersebut membuka babak baru dalam peta investasi nasional. Jika selama ini investasi terkonsentrasi pada logam dasar dan pertambangan, masuknya modal besar ke sektor perumahan dan kawasan industri dapat memperluas dampak ekonomi hingga ke sektor konstruksi, tenaga kerja, dan industri pendukung.
Namun, tantangan tetap ada. Program ambisius pembangunan jutaan rumah menuntut kepastian lahan, pembiayaan, serta koordinasi lintas sektor yang solid. Tanpa itu, lonjakan minat investor berisiko terhambat di tahap perencanaan.
Dengan capaian hampir Rp 2.000 triliun dan dominasi investor asing dari Singapura, realisasi investasi 2025 menunjukkan kepercayaan global terhadap ekonomi Indonesia masih terjaga. Pertanyaan berikutnya bukan lagi soal besaran angka, melainkan kualitas dan arah investasi: apakah mampu mendorong pemerataan, menciptakan lapangan kerja berkelanjutan, dan mengurangi ketergantungan pada sektor ekstraktif.

