Jakarta (tutur.co.id) — Keberhasilan Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara menghimpun dana US$1,5 miliar melalui penerbitan obligasi global perdana mendapat respons beragam dari kalangan ekonom dan pengamat pasar modal. Di satu sisi, tingginya minat investor internasional dinilai mencerminkan kepercayaan terhadap Indonesia. Namun di sisi lain, sejumlah analis mengingatkan bahwa keberhasilan tersebut belum tentu menjamin dampak positif jangka panjang bagi perekonomian.
Menteri Investasi dan Hilirisasi sekaligus Chief Executive Officer (CEO) Danantara, Rosan Roeslani, mengungkapkan dana hasil penerbitan obligasi akan masuk ke rekening Danantara pada 18 Juni 2026. Penerbitan surat utang global tersebut berhasil menarik minat 122 investor institusi dari berbagai negara dengan total pemesanan mencapai US$4,6 miliar atau lebih dari tiga kali nilai penerbitan.
Awalnya, Danantara hanya menargetkan penerbitan obligasi sebesar US$1 miliar. Namun tingginya permintaan investor membuat nilai penerbitan ditingkatkan menjadi US$1,5 miliar yang terbagi dalam dua tenor, yakni obligasi lima tahun senilai US$750 juta dengan kupon 5,35% dan obligasi 10 tahun sebesar US$750 juta dengan kupon 5,95%.
“Ini adalah hasil yang sangat baik dan membuktikan bahwa kepercayaan investor terhadap Indonesia masih tinggi,” ujar Rosan.
Menurut Rosan, komposisi investor yang masuk juga cukup mengejutkan. Untuk obligasi tenor lima tahun, sebanyak 38% investor berasal dari Amerika Serikat, 41% dari Eropa dan Timur Tengah, serta 21% dari Asia. Sementara pada tenor 10 tahun, investor asal Amerika Serikat mendominasi hingga 52%, diikuti Eropa dan Timur Tengah sebesar 31%, serta Asia 17%.
Dominasi investor Amerika Serikat tersebut berbeda dengan pola penerbitan obligasi Indonesia sebelumnya yang umumnya lebih banyak diminati investor Asia.
Meski demikian, pengamat pasar modal dan ekonom Lucky Bayu Purnomo mengingatkan bahwa kelebihan permintaan (oversubscribed) tidak serta-merta mencerminkan kualitas kredit yang sempurna.
Menurut Lucky, tingginya minat investor lebih banyak dipengaruhi oleh fenomena hunt for yield di tengah ketidakpastian ekonomi global. Investor dinilai melihat Danantara menawarkan imbal hasil yang menarik dengan asumsi adanya dukungan implisit dari pemerintah Indonesia.
“Oversubscribed bukan jaminan kualitas kredit sempurna, melainkan investor sedang mencari instrumen dengan yield menarik di tengah ketidakpastian global,” ujar Lucky kepada tutur.co.id, Senin (15/06/2026) malam.
Ia menilai keberhasilan Danantara menekan tingkat kupon dari indikasi awal mencerminkan strategi price discovery yang agresif. Namun langkah tersebut juga memiliki konsekuensi apabila kinerja investasi dan proyek yang didanai tidak memenuhi ekspektasi pasar.
“Jika kinerja entitas ke depan tidak sesuai ekspektasi, obligasi ini berpotensi underperform di pasar sekunder dan memukul persepsi risiko korporasi BUMN lainnya,” kata Lucky.
Ia juga mengingatkan adanya potensi efek crowding out terhadap pasar Surat Utang Negara (SUN). Jika Danantara terus menerbitkan obligasi global dengan spread yang kompetitif, sebagian investor asing berpotensi mengalihkan investasinya dari SUN ke obligasi Danantara sehingga dapat mendorong kenaikan yield obligasi pemerintah.
Selain itu, risiko penggunaan dana menjadi faktor penting yang harus diperhatikan. Menurut Lucky, apabila dana hasil penerbitan obligasi tidak disalurkan ke proyek produktif dan memiliki tingkat pengembalian yang memadai, maka pada saat jatuh tempo dapat muncul tekanan terhadap arus modal dan nilai tukar rupiah.
Karena itu, ia menekankan pentingnya transparansi penggunaan dana, pemilihan proyek yang layak secara ekonomi, serta minimnya intervensi politik dalam proses investasi.
“Syarat mutlak dampak ekonomi positif adalah transparansi penggunaan dana, proyek yang bankable, dan tidak ada intervensi politik dalam alokasi investasi,” tegasnya.
Di sisi lain, Head of Fixed Income Research PT Sinarmas Sekuritas, Aryo Perbongso, menilai penerbitan obligasi global Danantara merupakan pencapaian yang patut diapresiasi karena berlangsung di tengah kondisi pasar yang menantang.
Menurut Aryo, tingginya permintaan investor memungkinkan Danantara memangkas tingkat kupon sekitar 35 basis poin dari panduan awal. Obligasi tenor lima tahun berhasil ditetapkan pada level 5,35% dari indikasi awal 5,70%, sedangkan tenor 10 tahun turun menjadi 5,95% dari semula 6,30%.
Ia menilai transaksi tersebut mengirimkan sinyal positif bahwa minat investor global terhadap aset Indonesia masih kuat, meskipun Bank Indonesia baru saja menaikkan suku bunga acuan menjadi 5,50% untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.
“Keberhasilan ini menunjukkan minat global terhadap aset Indonesia masih solid sekaligus membuka alternatif sumber pendanaan baru bagi investasi nasional,” ujar Aryo kepada tutur.co.id, kemarin.
Ke depan, pasar akan mencermati bagaimana Danantara mengelola dana hasil penerbitan obligasi tersebut. Bagi investor, keberhasilan penghimpunan dana hanyalah langkah awal. Faktor yang akan menentukan keberhasilan sesungguhnya adalah kualitas investasi, tata kelola, serta kemampuan menghasilkan imbal hasil yang mampu melampaui biaya pendanaan obligasi dalam jangka panjang.

