Jakarta (tutur.co.id) – Satu dekade hilirisasi menjadikan Indonesia raja nikel dunia. Setiap 6 dari 10 ton nikel global berasal dari Indonesia. Namun di balik itu, industri turunan yang mengubah nikel menjadi produk jadi justru belum berkembang.
Laporan Energy Shift Institute (ESI) mencatat, Indonesia menguasai 86 persen perdagangan global feronikel senilai US$14 miliar pada 2025. Namun untuk produk baja tahan karat jadi, pangsa Indonesia turun drastis hanya 15 persen.
“Dalam lima tahun terakhir, produksi nikel Indonesia tumbuh 300 persen, namun hingga saat ini Indonesia masih mengimpor 80 persen konsumsi nikelnya bahkan dalam bentuk barang yang paling sederhana,” ujar Ahmad Zuhdi, Associate Principal ESI, dalam keterangan tertulisnya, Senin 25 Mei 2026.

Indonesia masih banyak mengimpor produk turunan nikel sederhana seperti untuk kebutuhan rumah tangga yakni peralatan masak, perlengkapan, dan pengencang baja tahan karat dari luar negeri.
“Kita mengekspor sebagian besar baja tahan karat dan mengimpornya kembali dalam bentuk peralatan dapur, keran, dan perlengkapan logam. Inilah paradoks yang perlu kita hadapi,” kata Zuhdi.
Laporan ESI juga menemukan, kontribusi sektor manufaktur terhadap PDB justru terkontraksi dari 32 persen pada 2002 menjadi hanya 19 persen pada 2024. Sekitar 98 persen kapasitas stainless steel nasional masih terkonsentrasi di tahap hulu (smelting). Sebanyak 85 persen kapasitas produksi dialokasikan untuk ekspor.
Padahal, manfaat ekonomi industri lanjutan jauh lebih besar. Investasi US$1,5 miliar di smelter hanya menyerap 3.000-5.000 tenaga kerja. Jika investasi sama diarahkan ke industri tahap lanjut, bisa menciptakan 15.000-25.000 lapangan kerja.
“Indonesia bisa mendapatkan lima kali lebih banyak pekerjaan, basis keterampilan lebih luas, dan permintaan bertumpu pada pasar domestik,” pungkas Zuhdi.

