Yogyakarta (tutur.co.id)- Malam di Kampung Ketandan Yogyakarta selalu punya suasana yang khas. Namun ketika Imlek tiba, kawasan ini berubah menjadi lebih hidup. Lampion merah bergantung di antara bangunan tua, memantulkan cahaya hangat ke jalanan yang tak pernah benar-benar sepi.
Letaknya yang berdekatan dengan Malioboro membuat Ketandan mudah dijangkau wisatawan. Banyak orang yang awalnya hanya berjalan santai, akhirnya berhenti lebih lama. Ada yang berfoto di bawah lampion, ada pula yang sekadar menikmati atmosfer perayaan Tahun Baru Imlek di Yogyakarta.
Ketandan bukan sekadar destinasi musiman. Kawasan ini adalah jejak sejarah komunitas Tionghoa di Yogya yang telah hidup berdampingan selama ratusan tahun. Saat Imlek, sejarah itu terasa semakin nyata. Ornamen merah, hiasan kaligrafi, hingga pertunjukan barongsai menghadirkan perayaan yang meriah namun tetap hangat.
Warna merah mendominasi hampir di setiap sudut. Dalam tradisi Tionghoa, merah melambangkan keberuntungan dan kebahagiaan. Di tengah keramaian itu, ada ruang yang lebih hening Klenyeng Fuk Ling Miau.
Klenteng yang berdiri sejak abad ke-19 ini menjadi salah satu pusat perayaan Imlek di Yogya. Lilin-lilin besar menyala perlahan, aroma dupa tipis menguar di udara malam. Umat datang membawa doa-doa sederhan yaitu kesehatan, kelancaran rezeki, dan ketenangan keluarga. Di balik kemeriahan luar, suasana di dalam klenteng terasa khusyuk.
Tak jauh dari pusat kota, Klenteng Poncowinatan juga menjadi tujuan ibadah saat Imlek. Arsitekturnya yang khas dengan detail ornamen penuh makna menghadirkan pengalaman visual sekaligus spiritual. Saat perayaan berlangsung, klenteng ini dipenuhi warna, cahaya, dan harapan.
Menariknya, perayaan Imlek di Yogyakarta tidak terasa eksklusif. Banyak warga lokal yang bukan keturunan Tionghoa turut datang untuk menyaksikan barongsai atau menikmati suasananya. Di ruang publik seperti Ketandan, perayaan berubah menjadi momen kebersamaan lintas budaya.
Bagi wisatawan yang ingin merasakan Imlek di Jogja, datanglah menjelang sore agar bisa menikmati perubahan suasana dari terang ke temaram. Gunakan pakaian nyaman karena kawasan ini paling nikmat dijelajahi dengan berjalan kaki. Jika berkunjung ke klenteng, tetap jaga sikap dan hormati umat yang sedang beribadah.
Imlek di Yogya bukan hanya tentang pergantian kalender lunar. Di Ketandan, merah bukan sekadar warna. Ia adalah simbol harapan yang terus menyala, tahun demi tahun.

