Jakarta (tutur.co.id) — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kian tertekan pada perdagangan Rabu (28/1/2026). Hingga penutupan sesi I, IHSG anjlok 659,01 poin atau 7,34% ke level 8.321,21, seiring aksi panic selling yang melanda pasar.
Pilarmas Investindo Sekuritas menilai tekanan hebat di pasar saham domestik dipicu oleh sentimen negatif dari MSCI Global Standard Indexes, yang memicu kekhawatiran investor terhadap prospek pasar modal Indonesia.
“MSCI mengumumkan pembekuan sementara atas kenaikan bobot dan penambahan saham Indonesia dalam indeks global,” tulis Pilarmas dalam risetnya, Rabu (28/1/2026).
Tak hanya itu, MSCI juga memberikan sinyal peringatan kepada otoritas pasar modal Indonesia untuk segera melakukan pembenahan sistem pelaporan, terutama terkait ketidakjelasan struktur kepemilikan saham serta potensi indikasi perdagangan semu.
“Apabila perbaikan transparansi tidak terealisasi hingga Mei 2026, Indonesia berisiko mengalami pemangkasan bobot dalam indeks MSCI Emerging Markets. Bahkan, terdapat risiko yang lebih ekstrem, yakni penurunan klasifikasi dari emerging market menjadi frontier market,” ujar Pilarmas.
Pilarmas menilai kondisi tersebut berpotensi memicu arus keluar dana asing lanjutan, sekaligus menjadi peringatan serius bagi otoritas pasar modal untuk segera melakukan pembenahan secara menyeluruh.
Bursa Asia mixed, pasar tunggu keputusan The Fed
Dari eksternal, pergerakan bursa saham Asia terpantau mixed. Pelaku pasar global cenderung menahan diri sambil menantikan keputusan suku bunga pertama The Federal Reserve (The Fed) tahun ini, yang dijadwalkan diumumkan Rabu waktu setempat. Bank sentral AS diperkirakan akan menahan suku bunga acuan tetap stabil.
Fokus pasar juga tertuju pada pernyataan Ketua The Fed Jerome Powell, yang dinilai akan memberikan petunjuk arah kebijakan moneter ke depan.
Di sisi lain, sentimen geopolitik turut membayangi pasar. Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan akan mencari solusi atas hubungan dagang AS–Korea Selatan, menyusul ancaman kenaikan tarif impor produk Korea Selatan hingga 25%. Negosiator perdagangan kedua negara dilaporkan telah menggelar pembicaraan dan dijadwalkan kembali bertemu pada akhir pekan ini.
Saham top gainers dan losers
Dari dalam negeri, tekanan jual mendominasi perdagangan sesi I. Meski demikian, sejumlah saham masih mencatatkan penguatan, di antaranya STAR, DFAM, WAPO, KAQI, dan AGAR.
Sementara itu, saham-saham yang mengalami penurunan terdalam meliputi DSSA, IMPC, BUVA, TAJA, dan ARGO.

