Jakarta (tutur.co.id) – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terjun bebas pada peredagangan sesi pagi Rabu (28/1/2026) dan sempat mendekati batas dihentikan sementara (trading halt). Sempat dibuka menguat, namun IHSG terkapar turun 7,34 persen ke level 8.321.218 pada penutupan pukul 12.00 WIB.
Ini adalah penurusan terdalam sepanjang bursa buka sejak tahun 2026. Anjloknya bursa mencerminkan meningkatnya tekanan jual yang datang secara tiba-tiba dari pelaku pasar, menyusul pengumuman MSCI terkait hasil konsultasi free float saham Indonesia.
“Koreksi dari IHSG hari ini diperkirakan terjadi di tengah adanya pengumuman MSCI perihal hasil konsultasi free float saham Indonesia. MSCI akan menerapkan perlakuan sementara untuk pasar Indonesia dengan membekukan sejumlah perubahan terkait indeks review,” ujar Herditya Wicaksana, Kepala Riset Ritel MNC Sekuritas kepada tutur.co.id.
]Herditya Wicaksana, menjelaskan bahwa tekanan signifikan terhadap IHSG terjadi seiring pengumuman MSCI terkait hasil konsultasi free float saham Indonesia. Dalam pengumuman tersebut, MSCI menyatakan akan menerapkan perlakuan sementara (temporary treatment) bagi pasar Indonesia dengan membekukan sejumlah perubahan dalam proses indeks review.
“Koreksi dari IHSG hari ini diperkirakan terjadi di tengah adanya pengumuman MSCI perihal hasil konsultasi free float saham Indonesia. MSCI akan menerapkan perlakuan sementara untuk pasar Indonesia dengan membekukan sejumlah perubahan terkait indeks review,” ujar Herditya.
Langkah MSCI tersebut merupakan tindak lanjut dari survei MSCI pada Oktober 2025 kepada pelaku pasar, yang menyoroti penggunaan data Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) dalam penghitungan free float emiten. Ketidakpastian lanjutan dari kebijakan ini memicu kekhawatiran investor, khususnya terhadap keberlanjutan bobot saham Indonesia di indeks global.
Reaksi pasar pun berlangsung cepat. Herditya menilai pengumuman MSCI tersebut telah memicu panic selling, terutama pada emiten-emiten konglomerasi dan saham yang tergabung dalam konstituen indeks MSCI, yang mengalami koreksi cukup dalam sejak awal perdagangan.
“Pengumuman MSCI ini menimbulkan reaksi negatif dari pelaku pasar dan memicu panic selling di market. Emiten-emiten konglomerasi serta saham yang berada dalam konstituen MSCI terdampak paling besar,” jelasnya.
Dari sisi teknikal, Herditya menyebut koreksi IHSG sejatinya masih sejalan dengan analisis harian yang telah dirilis MNC Sekuritas pada pagi hari. Namun demikian, tekanan jual yang terjadi membuat area koreksi yang diproyeksikan telah tercapai bahkan terlewati dalam waktu singkat.
“Secara teknikal, koreksi IHSG masih inline dengan analisis kami pagi ini, meskipun area koreksi yang kami berikan sudah tercapai dan terlewati,” ujarnya.
Lebih lanjut, Herditya menegaskan bahwa pelemahan IHSG kali ini tidak berkorelasi signifikan dengan faktor politik domestik. Menurutnya, tekanan pasar lebih dipengaruhi oleh sentimen MSCI yang diperparah oleh kondisi arus dana asing yang masih mencatatkan outflow dalam beberapa waktu terakhir.
“Bukan karena faktor dalam negeri. Kali ini dampak besar dari MSCI, investor masih panik saja, dan beberapa waktu belakangan outflow memang terus terjadi. Dari sisi politik korelasinya tidak begitu besar,” tegas Herditya.
Ke depan, investor diimbau untuk tetap mencermati perkembangan kebijakan MSCI terhadap pasar Indonesia dan bersikap lebih selektif dalam mengambil posisi.

