Jakarta (tutur.co.id) — Pergerakan IHSG diperkirakan masih memiliki ruang penguatan terbatas pada awal perdagangan pekan depan, Senin (13/4/2026), setelah mencatat lonjakan signifikan pada penutupan akhir pekan lalu.
Pada Jumat (10/4/2026), IHSG ditutup menguat 2,06% atau naik sekitar 150 poin ke level 7.458,49. Sepanjang sesi perdagangan, indeks bergerak stabil di zona hijau dengan rentang pergerakan antara 7.346 hingga 7.488. Secara akumulatif, dalam sepekan terakhir IHSG telah menguat 6,14%, ditopang oleh aksi beli bersih (net buy) investor asing sebesar Rp193,91 miliar di seluruh pasar.
Head of Research and Education Phintraco Sekuritas Valdy Kurniawan menilai, penguatan indeks didorong oleh sentimen global yang membaik, terutama harapan tercapainya kesepakatan antara Amerika Serikat dan Iran, serta antisipasi musim pembagian dividen emiten di Bursa Efek Indonesia.
Di sisi lain, Founder Republik Investor Hendra Wardana melihat kenaikan IHSG lebih mencerminkan fase pemulihan jangka pendek atau relief rally, bukan perubahan tren bullish yang kuat dalam jangka panjang. Menurutnya, pasar sebelumnya berada dalam kondisi jenuh jual (oversold), sehingga wajar terjadi rebound teknikal ketika sentimen global mereda.
Meredanya ketegangan geopolitik, khususnya terkait potensi gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran, sempat memberikan ruang bagi investor untuk kembali masuk ke aset berisiko, termasuk pasar saham. Hal ini diperkuat oleh stabilisasi nilai tukar rupiah dan meningkatnya minat asing terhadap saham-saham berkapitalisasi besar.
Secara teknikal, IHSG diperkirakan bergerak dalam rentang support di 7.200 dan resistance di 7.550, dengan level pivot di 7.350. Sementara itu, Hendra memperkirakan ruang gerak indeks berada di kisaran 7.400 hingga 7.520, dengan peluang menguji resistance di area 7.500.
Meski peluang penguatan masih terbuka, pelaku pasar cenderung berhati-hati. Dinamika global yang belum sepenuhnya stabil, terutama terkait negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran, menjadi faktor utama yang memengaruhi arah pasar. Hingga saat ini, perundingan kedua negara disebut masih berlangsung alot tanpa kemajuan signifikan.
Ketegangan tersebut semakin kompleks dengan keterlibatan faktor geopolitik lain, termasuk tekanan dari Israel, yang berpotensi memengaruhi arah diplomasi. Kondisi ini membuat pasar global berada dalam fase wait and see dengan tingkat volatilitas yang tinggi.
Risiko utama yang menjadi perhatian adalah potensi gangguan di Selat Hormuz, jalur vital distribusi sekitar 20% pasokan minyak dunia. Jika konflik kembali memanas dan negosiasi gagal, harga minyak berpotensi melonjak, memicu tekanan inflasi global, serta membatasi ruang pelonggaran suku bunga.
Skenario tersebut berisiko mendorong arus keluar dana asing dari pasar negara berkembang, termasuk Indonesia, yang pada akhirnya dapat menekan IHSG. Namun di sisi lain, sektor energi, komoditas, dan pelayaran justru berpotensi mendapat keuntungan dari kenaikan harga energi.
Sebaliknya, jika tercapai terobosan dalam negosiasi, IHSG berpotensi melanjutkan penguatan meski sifatnya masih terbatas sebagai trading rally.
Dari sisi domestik, investor juga mencermati sejumlah data ekonomi terbaru. Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Indonesia tercatat turun ke level 122,9 pada Maret 2026 dari 125,2 pada Februari, meski masih lebih baik dari ekspektasi pasar. Selain itu, penjualan mobil mengalami kontraksi 13,8% secara tahunan pada Maret, setelah sebelumnya tumbuh pada Februari.
Ke depan, pasar akan menantikan rilis data penjualan ritel Februari 2026 yang diperkirakan tumbuh 5,9% secara tahunan sebagai indikator daya beli masyarakat.
Dalam kondisi pasar yang dinamis, analis menyarankan investor tetap selektif dan disiplin dalam mengambil posisi. Valdy merekomendasikan sejumlah saham seperti BBCA, BBRI, MYOR, ISAT, EXCL, dan BRIS untuk dicermati. Sementara Hendra menyarankan saham JPFA, LSIP, SCMA, dan HUMI dengan target harga masing-masing Rp2.800, Rp1.600, Rp330, dan Rp240 per saham.
Dengan kombinasi sentimen global dan domestik yang masih beragam, pergerakan IHSG dalam jangka pendek diperkirakan akan tetap fluktuatif, dengan kecenderungan menguat terbatas di tengah tingginya ketidakpastian pasar.

