Jakarta (tutur.co.id) — Indeks harga saham gabungan (IHSG) kembali mengalami tekanan hebat pada perdagangan Selasa (19/5/2026). Alih-alih pulih setelah kunjungan Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad ke Bursa Efek Indonesia (BEI), indeks justru ditutup makin terpuruk ke level terendah dalam beberapa tahun terakhir.
IHSG ditutup anjlok 228,56 poin atau 3,46% ke level 6.370, setelah sempat bergerak di rentang 6.323 hingga 6.635. Nilai transaksi tercatat mencapai Rp21,54 triliun.
Pelaku pasar tampaknya belum melihat kunjungan Dasco sebagai katalis positif yang mampu memulihkan kepercayaan investor. Tekanan jual masih mendominasi pasar saham domestik di tengah kombinasi sentimen negatif dari dalam dan luar negeri.
Salah satu faktor yang membebani pasar adalah rencana pemerintah membentuk Badan Ekspor bagi eksportir sumber daya alam (SDA). Selain itu, pelemahan nilai tukar rupiah hingga menyentuh level terendah baru di Rp17.706 per dolar AS turut memperburuk sentimen investor.
Tekanan terhadap IHSG juga dipicu aksi jual di hampir seluruh sektor saham. Sektor material dasar menjadi yang paling tertekan dengan penurunan 7,30%, diikuti sektor energi 6,94%, transportasi 6,58%, industri 4,54%, infrastruktur 4,13%, dan consumer primer 3,36%. Hanya sektor kesehatan yang mampu bertahan di zona hijau dengan kenaikan tipis 0,55%.
Sejumlah saham kapitalisasi besar atau big cap menjadi pemberat utama indeks, termasuk TPIA, DSSA, RAJA, AALI, ADRO, INDY, INCO, TINS, ANTM, hingga ITMG.
Meski pasar berdarah-darah, sejumlah saham masih mencatatkan penguatan signifikan. Saham LCKM melesat 33,93% ke Rp150, RELI naik 24,48% ke Rp600, ASPR menguat 15,42% ke Rp464, FOOD naik 10% ke Rp187, dan SRAJ menguat 9,06% ke Rp13.850.
Sebelumnya pada perdagangan Senin, IHSG juga sempat anjlok lebih dari 4,3% sebelum akhirnya ditutup di level 6.599. Investor asing tercatat melakukan penjualan bersih (net sell) sebesar Rp463,99 miliar, terutama pada saham ANTM, BREN, dan AMMN.
Kondisi pasar juga dibayangi sentimen global, pelemahan rupiah, hingga keputusan MSCI dan FTSE Russell yang masih membekukan pasar saham Indonesia serta mengeluarkan sejumlah emiten dari indeks global mereka.
Di tengah tekanan tersebut, Dasco mengaku telah berdiskusi dengan pengelola bursa mengenai langkah penguatan kepercayaan investor dan penyempurnaan regulasi pasar modal.
“Kami tadi sudah banyak berdiskusi di atas bagaimana kita meyakinkan untuk menguatkan investor global yang akan masuk di bursa dan sedang di bursa,” kata Dasco usai sidak ke BEI.
Ia juga menyebut pemerintah dan otoritas pasar modal tengah menyiapkan sejumlah langkah pembenahan yang diharapkan mulai menunjukkan hasil setelah 29 Mei 2026.
“Mudah-mudahan kita akan melihat hasilnya setelah tanggal 29 ini, semua yang dilakukan atas kerja keras dan niat baik ini akan membuka hasil,” ujar Dasco.

