Jakarta (tutur.co.id) – Pasar saham Indonesia kembali diguncang. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terkoreksi agresif hingga 7,35% ke level 8.320, dipicu kekhawatiran investor terhadap tuntutan MSCI terkait perbaikan tata kelola dan perhitungan free float emiten di Bursa Efek Indonesia (BEI). Tekanan jual masif mencerminkan sensitivitas pasar terhadap isu struktural yang selama ini dianggap laten.
Ekonom senior Universitas Paramadina Wijayanto Samirin menilai tuntutan MSCI merupakan konsekuensi logis jika Indonesia ingin menjadi bagian dari pasar modal global. “Tuntutan MSCI adalah wajar, jika pasar modal kita ingin menjadi bagian dari pasar global; selama ini investor domestik pun merasa ada yg salah dengan pasar modal kita; tidak mencerminkan realita,” kata Wijayanto kepada tutur.co.id.
Namun demikian, Wijayanto menegaskan bahwa pembenahan pasar modal bukan perkara sederhana. “Memperbaiki situasi tidak mudah, ini terkait dgn regulasi, implementasi dan penegakan sanksi. Target sebulan tdk realistis, deadline MSCI hingga Mei pun sulit terwujud,” katanya. Ia menambahkan, upaya perbaikan tidak cukup jika hanya dibebankan pada otoritas teknis. “Utk memperbaiki keadaan, BEI dan OJK saja tidak cukup. Perlu political will dari pimpinan negara; krn yg didisiplinkan bukan kelompok sembarangan.”
Dari sisi pasar, Kepala Riset Ritel MNC Sekuritas Herditya Wicaksana menilai reaksi investor masih akan cenderung berhati-hati. “Melihat kejadian kemarin, nampaknya investor dapat selective buy terlebih dahulu, mungkin dapat dihindari emiten2 yg ‘berkaitan’ dengan MSCI,” ujar Herditya.

Secara teknikal, Herditya memaparkan tekanan koreksi masih dominan. “IHSG terkoreksi agresif sebesar 7,35% ke 8,320 dan disertai dengan munculnya tekanan jual serta gap yang muncul pada rentang 8,595-8,873. Posisi IHSG saat ini diperkirakan sedang berada pada bagian dari wave (c) dari wave [iv] dari wave 3, sehingga IHSG masih rawan melanjutkan koreksinya ke rentang 8,127-8,168,” jelasnya.
Adapun area penguatan terdekat IHSG berada di 8.374–8.490, dengan support di 8.187 dan 8.137, serta resistance di 8.354 dan 8.414. Dalam kondisi volatil seperti ini, MNC Sekuritas merekomendasikan saham ARCI, BUVA, INCO, dan PTRO sebagai opsi yang dapat dicermati investor dengan strategi selektif dan manajemen risiko ketat.

