Jakarta (tutur.co.id)- Ketegangan geopolitik global akibat konflik di Timur Tengah meningkatkan kekhawatiran dunia terhadap stabilitas pangan.
Gangguan logistik dan ketidakpastian perdagangan internasional berpotensi menekan pasokan serta mendorong kenaikan harga. Bahkan Rusia menyerukan pembentukan cadangan pangan bersama negara-negara BRICS sebagai langkah antisipatif.
Di tengah situasi tersebut, Indonesia justru mencatat capaian positif. Cadangan Beras Pemerintah (CBP) yang dikelola Perum Bulog telah mencapai 4,7 juta ton—tertinggi sepanjang sejarah—dan terus menuju 5 juta ton.
Selain itu, ketersediaan beras di pasar domestik dan sektor HoReCa mencapai 12 juta ton. Ditambah potensi produksi dari standing crop hingga akhir tahun, total ketersediaan ini diperkirakan mampu memenuhi kebutuhan pangan hingga 11 bulan ke depan.
Capaian ini sejalan dengan arah kebijakan pemerintah sejak awal. Presiden Prabowo Subianto sebelumnya menegaskan pentingnya swasembada pangan agar Indonesia tidak bergantung pada impor, terutama dalam situasi krisis global.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan langkah antisipatif telah dilakukan sejak dini, berdasar keterangan tertulis yang diterima Redaksi Tutur.
“Sejak awal, Bapak Presiden sudah menekankan pentingnya swasembada dan penguatan cadangan pangan. Ini menjadi langkah strategis menghadapi situasi global yang penuh ketidakpastian,” ujar Amran (15/4/2026).
Ia menambahkan, cadangan saat ini mencerminkan kesiapan Indonesia menghadapi berbagai skenario krisis.
“Dengan cadangan 4,7 juta ton yang terus menuju 5 juta ton, kebutuhan pangan kita cukup hingga 11 bulan ke depan,” tegasnya.
Kementerian Pertanian menilai dinamika global menunjukkan pentingnya cadangan pangan yang kuat dan mandiri, mengingat rantai pasok global rentan terganggu.
Terkait usulan Rusia soal cadangan pangan BRICS, pemerintah memandangnya sebagai langkah strategis untuk memperkuat ketahanan pangan global sekaligus membuka peluang kontribusi Indonesia di tingkat internasional.
Dengan tiga lapisan ketersediaan—cadangan pemerintah, pasokan pasar, dan proyeksi produksi—Indonesia dinilai berada pada posisi cukup kuat menghadapi potensi krisis pangan global.

