Close Menu
tutur.co.idtutur.co.id
  • Beranda
  • Politik & Hukum
    • Politik
    • Hukum
    • Keamanan
    • Daerah
    • Wawancara
  • Ekbis
    • Energi & Tambang
    • Finance
    • Makro
    • Mikro
    • Ekonomi Hijau
    • Market
  • Otomotif
    • Motor
    • Mobil
    • Aksesori
    • Industri
  • Opini
    • Opini
    • Tutur PoV
  • Lifestyle
    • Perempuan
    • Fashion
    • Health
    • Techno
  • Sport
  • Video
Facebook X (Twitter) Instagram
tutur.co.idtutur.co.id
  • Beranda
  • Politik & Hukum
    • Politik
    • Hukum
    • Keamanan
    • Daerah
    • Wawancara
  • Ekbis
    • Energi & Tambang
    • Finance
    • Makro
    • Mikro
    • Ekonomi Hijau
    • Market
  • Otomotif
    • Motor
    • Mobil
    • Aksesori
    • Industri
  • Opini
    • Opini
    • Tutur PoV
  • Lifestyle
    • Perempuan
    • Fashion
    • Health
    • Techno
  • Sport
  • Video
Indeks
Trending
  • Enggak Tercantum di LHKPN Febrie, Rumah Sentul Ternyata Milik Sang Anak
  • Review Lengkap Samsung Galaxy A27 5G: Keunggulan, Kekurangan dan Harganya
  • Tuchel Disorot Usai Inggris Tersingkir: Salah Taktik atau Mental Pemain?
  • Febrie Tak Tahu Brankas Berisi Emas Batangan dan Dolar di Rumah Sentul
  • Hotman Tidak Ngarep Imbalan Bela Febrie: Modal HP Bikin Penyidik Kocar-kacir
  • Ceceran Darah di Jembatan Bandar Khamir Membakar Amarah Iran
  • Tahunnya Rusia Pamer Kekuatan, Gelar Latihan Militer Estafet
  • Wasit Slavko Vincic: Pertanda Baik Spanyol atau Mimpi Buruk Argentina?
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok
tutur.co.idtutur.co.id
Home»Makro»Defisit APBN 2025 Diperlebar ke 2,92 Persen: Taruhan Fiskal Pemerintah

Defisit APBN 2025 Diperlebar ke 2,92 Persen: Taruhan Fiskal Pemerintah

Makro Gusti Tetiro20 Januari 2026 / 17:33 WIB
Facebook Twitter LinkedIn Email WhatsApp
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

Jakarta (tutur.co.id) — Pemerintah secara sadar memilih memperlebar defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2025 hingga 2,92 persen terhadap produk domestik bruto (PDB), mendekati ambang batas konstitusional 3 persen. Langkah ini bukan semata konsekuensi teknis, melainkan strategi fiskal yang disengaja untuk menahan laju perlambatan ekonomi yang membayangi Indonesia sepanjang 2025.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan, kebijakan tersebut dirancang sebagai langkah countercyclical—intervensi aktif negara untuk memulihkan perekonomian ketika sektor swasta melemah dan tekanan sosial mulai menguat.

“Defisit fiskal itu dipakai seperti itu untuk apa? Untuk menggairahkan perekonomian dalam negeri. Kita hidupkan permintaan maupun penawaran di dalam negeri, karena kita tahu dari awal tahun lalu sampai Agustus melambat terus,” ujar Purbaya di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, dikutip Selasa (20/1/2026).

Antara Keharusan Ekonomi dan Taruhan Risiko

Pelebaran defisit fiskal hingga mendekati batas maksimum selalu menjadi wilayah sensitif dalam kebijakan makro Indonesia. Di satu sisi, ruang defisit memberi pemerintah amunisi untuk mendorong belanja, subsidi, dan proyek padat karya. Di sisi lain, langkah ini meningkatkan tekanan pembiayaan utang dan mempersempit ruang fiskal jangka menengah.

Namun Purbaya menilai pilihan itu tidak terelakkan. Tanpa dorongan fiskal yang agresif, ia memperingatkan perekonomian nasional berisiko masuk ke fase krisis.

“Kalau enggak, kita sekarang sudah menuju krisis tuh. Tapi kan kita sudah balikan. Jadi defisit fiskal adalah suatu konsekuensi logis dari kita menjalankan kebijakan countercyclical untuk membalik arah perekonomian,” tegasnya.

Menurutnya, indikator makro mulai menunjukkan pembalikan arah ke zona positif, meskipun ia tidak merinci angka pertumbuhan atau konsumsi. Pemerintah, kata Purbaya, optimistis fondasi pemulihan telah terbentuk berkat apa yang ia sebut sebagai “kebijakan fiskal cerdas”.

Baca Juga  Euforia Optimisme Pertumbuhan Ekonomi Saat Rupiah Jebol

Sinyal Sosial di Balik Angka APBN

Menariknya, Purbaya secara terbuka mengaitkan kebijakan fiskal dengan gejolak sosial yang terjadi pada Agustus hingga September 2025. Demonstrasi besar yang merebak di sejumlah daerah ia sebut sebagai indikator tekanan ekonomi riil yang dialami masyarakat.

“Demo yang terjadi bulan September, Agustus akhir, September awal itu, itu indikasi bahwa masyarakat sudah susah cari kerja, makanan sudah terganggu, segala macam,” ujarnya.

Pernyataan ini menggarisbawahi bahwa keputusan fiskal tidak hanya didorong oleh variabel makro seperti pertumbuhan atau inflasi, tetapi juga oleh stabilitas sosial. Dalam logika pemerintah, APBN berfungsi sebagai peredam guncangan ekonomi sekaligus penyangga ketahanan sosial.

Meski demikian, sejumlah ekonom menilai bahwa penggunaan defisit fiskal sebagai alat stabilisasi harus diikuti dengan belanja yang tepat sasaran. Tanpa efektivitas belanja, pelebaran defisit berisiko hanya menumpuk beban fiskal tanpa dampak nyata terhadap kesejahteraan.

Fokus Lapangan Kerja, Bukan Sekadar Pertumbuhan

Ke depan, pemerintah menyatakan akan memperkuat koordinasi dengan bank sentral untuk menciptakan ruang pertumbuhan ekonomi yang lebih cepat. Fokus utama diarahkan pada penciptaan lapangan kerja dalam skala besar, sebagai jawaban atas tekanan sosial yang sempat memuncak pada 2025.

“Kewajiban kita memastikan ekonomi tumbuh lebih cepat ke depan, sehingga lapangan kerja tercipta lebih banyak, sehingga orang enggak sibuk demo, tapi sibuk bekerja,” tandas Purbaya.

Pernyataan tersebut menegaskan arah kebijakan fiskal 2025 bukan hanya mengejar angka pertumbuhan, tetapi juga stabilitas sosial-politik. Tantangannya, efektivitas belanja negara kini berada di bawah sorotan publik dan parlemen: apakah defisit hampir 3 persen benar-benar mampu menggerakkan ekonomi riil, atau justru menjadi warisan risiko fiskal bagi tahun-tahun berikutnya.

Pilihan telah diambil. APBN 2025 kini menjadi arena pertaruhan—antara keberanian kebijakan countercyclical dan kewajiban menjaga disiplin fiskal jangka panjang.

Baca Juga  Danantara Ungkap Alasan Bentuk BUMN Baru Khusus Ekspor
Defisit APBN menkeu purbaya pertumbuhan ekonomi
Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
Previous ArticleFrugal Living untuk Ibu, Jangan Hanya di Tanggal Tua
Next Article Video: Eks Kapolda Rikwanto Soroti Kasus Guru Honorer di Jambi jadi Tersangka: Tak Ada Mens Rea

Berita Lainnya

Menkeu Purbaya: Rupiah Melemah karena Faktor Global, Penguatan UMKM Jadi Kunci Ketahanan Ekonomi

17 Juli 2026 / 09:55 WIB

Hong Kong Geser Singapura sebagai Investor Terbesar Indonesia pada Kuartal II-2026, Pertama dalam Satu Dekade

16 Juli 2026 / 16:50 WIB

Presiden Prabowo Kumpulkan DEN di Hambalang, Apa yang Dibicarakan?

14 Juli 2026 / 22:01 WIB

Menkeu Purbaya Pastikan Tarif Pajak Tidak Naik, Ini Strategi Barunya

14 Juli 2026 / 12:36 WIB

Imbas Manis Coretax: Setoran Pajak Melejit, Kepatuhan SPT Tinggi

13 Juli 2026 / 13:32 WIB

Mirae Asset Pangkas Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia 2026 Jadi 4,8%, Ini Penyebabnya

10 Juli 2026 / 10:50 WIB
Form Komentar Cancel Reply

Cedera Salah Warnai Kemenangan Liverpool, Fans Khawatir Ini Laga Terakhir

Deba Salamah26 April 2026 / 08:00 WIB

Enggak Tercantum di LHKPN Febrie, Rumah Sentul Ternyata Milik Sang Anak

18 Juli 2026 / 16:19 WIB

Review Lengkap Samsung Galaxy A27 5G: Keunggulan, Kekurangan dan Harganya

18 Juli 2026 / 16:04 WIB

Tuchel Disorot Usai Inggris Tersingkir: Salah Taktik atau Mental Pemain?

18 Juli 2026 / 16:00 WIB

Febrie Tak Tahu Brankas Berisi Emas Batangan dan Dolar di Rumah Sentul

18 Juli 2026 / 15:41 WIB

Hotman Tidak Ngarep Imbalan Bela Febrie: Modal HP Bikin Penyidik Kocar-kacir

18 Juli 2026 / 15:06 WIB

Copyright @ PT Tutur Media Digital

Bertutur Berdasar Fakta dan Data

Instagram TikTok X (Twitter) YouTube Facebook

Tentang
Redaksi
Alamat dan Kontak
Kode Perilaku Perusahaan

Disclaimer
Kode Etik
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.