Close Menu
tutur.co.idtutur.co.id
  • Beranda
  • Politik & Hukum
    • Politik
    • Hukum
    • Keamanan
    • Daerah
    • Wawancara
  • Ekbis
    • Energi & Tambang
    • Finance
    • Makro
    • Mikro
    • Ekonomi Hijau
    • Market
  • Otomotif
    • Motor
    • Mobil
    • Aksesori
    • Industri
  • Opini
    • Opini
    • Tutur PoV
  • Lifestyle
    • Perempuan
    • Fashion
    • Health
    • Techno
  • Sport
  • Video
Facebook X (Twitter) Instagram
tutur.co.idtutur.co.id
  • Beranda
  • Politik & Hukum
    • Politik
    • Hukum
    • Keamanan
    • Daerah
    • Wawancara
  • Ekbis
    • Energi & Tambang
    • Finance
    • Makro
    • Mikro
    • Ekonomi Hijau
    • Market
  • Otomotif
    • Motor
    • Mobil
    • Aksesori
    • Industri
  • Opini
    • Opini
    • Tutur PoV
  • Lifestyle
    • Perempuan
    • Fashion
    • Health
    • Techno
  • Sport
  • Video
Indeks
Trending
  • Enggak Tercantum di LHKPN Febrie, Rumah Sentul Ternyata Milik Sang Anak
  • Review Lengkap Samsung Galaxy A27 5G: Keunggulan, Kekurangan dan Harganya
  • Tuchel Disorot Usai Inggris Tersingkir: Salah Taktik atau Mental Pemain?
  • Febrie Tak Tahu Brankas Berisi Emas Batangan dan Dolar di Rumah Sentul
  • Hotman Tidak Ngarep Imbalan Bela Febrie: Modal HP Bikin Penyidik Kocar-kacir
  • Ceceran Darah di Jembatan Bandar Khamir Membakar Amarah Iran
  • Tahunnya Rusia Pamer Kekuatan, Gelar Latihan Militer Estafet
  • Wasit Slavko Vincic: Pertanda Baik Spanyol atau Mimpi Buruk Argentina?
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok
tutur.co.idtutur.co.id
Home»Health»Ahli Epidemiologi UNAIR Ungkap Ancaman Virus Nipah di Indonesia, Belum Ada Kasus Manusia namun Fatalitas Tinggi

Ahli Epidemiologi UNAIR Ungkap Ancaman Virus Nipah di Indonesia, Belum Ada Kasus Manusia namun Fatalitas Tinggi

Health Sasha Widiawati16 Februari 2026 / 02:55 WIB
Facebook Twitter LinkedIn Email WhatsApp
Dr Windhu Purnomo dr MS
Dr Windhu Purnomo dr MS
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

Surabaya (tutur.co.id) – Ancaman penyakit zoonosis kembali menjadi sorotan setelah temuan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengungkap keberadaan material genetik virus Nipah pada kelelawar di sejumlah wilayah Indonesia. Meski hingga kini belum ditemukan kasus pada manusia, para ahli mengingatkan pentingnya kewaspadaan dini.

Ahli Biostatistika Epidemiologi sekaligus Dosen Luar Biasa Universitas Airlangga (UNAIR), Windhu Purnomo, menjelaskan bahwa secara epidemiologis Indonesia masih dalam status tanpa kasus manusia. Pemerintah pun belum pernah mengumumkan adanya infeksi virus Nipah pada warga.

Namun demikian, keberadaan virus pada hewan reservoir menunjukkan potensi risiko yang perlu diantisipasi melalui langkah pencegahan dan penguatan sistem surveilans kesehatan.

Ditemukan pada Kelelawar Buah

Menurut Windhu, surveilans nasional periode 2023–2024 menemukan RNA virus Nipah pada empat dari 305 sampel kelelawar buah (codot) yang diperiksa. Temuan ini menegaskan bahwa virus tersebut telah beredar di populasi satwa liar, meskipun belum terjadi transmisi ke manusia di Indonesia.

Secara historis, virus Nipah pertama kali diidentifikasi pada 1998 di Malaysia dan kemudian menimbulkan kasus di sejumlah negara Asia Selatan dan Asia Tenggara. Penyakit ini dikenal memiliki tingkat kematian atau Case Fatality Rate (CFR) yang tinggi, berkisar 45 hingga 80 persen, jauh di atas rata-rata fatalitas COVID-19.

Windhu menegaskan bahwa tingginya CFR menjadi alasan utama kewaspadaan. Meski demikian, ia mengimbau masyarakat untuk tidak panik. Pendekatan terbaik saat ini adalah memperkuat pencegahan melalui Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS).

Ia mengingatkan masyarakat untuk menjaga imunitas tubuh dengan asupan gizi seimbang, istirahat cukup, dan menghindari konsumsi buah yang berpotensi terkontaminasi kelelawar, terutama buah yang telah tergigit atau jatuh dari pohon.

Baca Juga  Pertamina dan Badan Gizi Nasional Sinergikan Minyak Jelantah Jadi Energi Rendah Karbon

Langkah sederhana ini dinilai efektif dalam meminimalkan risiko penularan zoonosis, termasuk potensi virus Nipah.

Gejala dan Pentingnya Deteksi Dini

Secara klinis, infeksi virus Nipah dapat diawali gejala menyerupai flu seperti demam dan gangguan pernapasan. Namun dalam kasus berat, infeksi dapat berkembang menjadi ensefalitis atau radang otak yang berujung pada koma hingga kematian.

Hingga saat ini belum tersedia vaksin spesifik untuk virus Nipah. Oleh karena itu, deteksi dini dan pelaporan cepat menjadi kunci utama mitigasi risiko. Fasilitas kesehatan, mulai dari puskesmas hingga rumah sakit, diharapkan meningkatkan kewaspadaan terhadap kasus demam berat, infeksi saluran pernapasan akut, serta gejala neurologis seperti ensefalitis.

Dalam konteks pencegahan pandemi, Windhu juga menekankan pentingnya kontribusi perguruan tinggi. Institusi akademik berperan dalam menghasilkan bukti ilmiah melalui riset, edukasi publik, serta komunikasi risiko berbasis data.

Menurutnya, pengendalian ancaman zoonosis tidak dapat dilakukan oleh satu sektor saja. Kolaborasi antara pemerintah, lembaga riset, perguruan tinggi, dan masyarakat menjadi fondasi utama dalam mencegah potensi wabah di masa depan.

Dengan temuan terbaru ini, Indonesia dinilai masih dalam tahap kewaspadaan awal. Transparansi data, penguatan surveilans, serta edukasi publik menjadi langkah strategis agar ancaman virus Nipah dapat dikendalikan sejak dini. (sas)

Universitas Airlangga Virus Nipah
Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
Previous ArticleEri Cahyadi Alokasikan Rp5 Juta per RW untuk Gen Z, Kampung Pancasila Jadi Inkubator Wirausaha Muda
Next Article Danantara Kejar Rating S&P dan Moody’s usai Kantongi BBB Stabil

Berita Lainnya

Resep MPASI untuk Bayi 6 Bulan ke Atas, Lengkap dengan Panduan Pemberian yang Tepat

24 Juni 2026 / 09:22 WIB

Jengkol dan Petai Mana yang Lebih Sehat? Kenali Perbedaan hingga Penyebab Bau Khasnya

23 Juni 2026 / 09:46 WIB

7 Cara Menghilangkan Bau Amis pada Ikan dengan Bahan Sederhana, Mudah Dipraktikkan di Rumah

20 Juni 2026 / 09:22 WIB

Broken Home: Luka Keluarga yang Tak Selalu Terlihat, Tapi Berdampak Panjang

19 Juni 2026 / 09:14 WIB

Leunca, Lalapan Khas Sunda yang Disukai Banyak Orang, Ternyata Kaya Nutrisi

18 Juni 2026 / 09:02 WIB

5 Minuman yang Bisa Bantu Turunkan Berat Badan, Bukan Pembakar Lemak Instan

17 Juni 2026 / 09:11 WIB
Form Komentar Cancel Reply

Unggul Agregat, Bayern Diminta Tetap Waspadai Mental Juara Madrid

Deba Salamah16 April 2026 / 01:00 WIB

Enggak Tercantum di LHKPN Febrie, Rumah Sentul Ternyata Milik Sang Anak

18 Juli 2026 / 16:19 WIB

Review Lengkap Samsung Galaxy A27 5G: Keunggulan, Kekurangan dan Harganya

18 Juli 2026 / 16:04 WIB

Tuchel Disorot Usai Inggris Tersingkir: Salah Taktik atau Mental Pemain?

18 Juli 2026 / 16:00 WIB

Febrie Tak Tahu Brankas Berisi Emas Batangan dan Dolar di Rumah Sentul

18 Juli 2026 / 15:41 WIB

Hotman Tidak Ngarep Imbalan Bela Febrie: Modal HP Bikin Penyidik Kocar-kacir

18 Juli 2026 / 15:06 WIB

Copyright @ PT Tutur Media Digital

Bertutur Berdasar Fakta dan Data

Instagram TikTok X (Twitter) YouTube Facebook

Tentang
Redaksi
Alamat dan Kontak
Kode Perilaku Perusahaan

Disclaimer
Kode Etik
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.