Jakarta (tutur.co.id) — Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara Indonesia) tengah memproses perolehan peringkat kredit (rating) dari S&P Global Ratings dan Moody’s Ratings. Langkah ini dilakukan setelah lembaga tersebut mengantongi peringkat BBB dengan outlook stabil dari Pefindo dan Fitch Ratings.
Chief Executive Officer (CEO) Danantara Indonesia, Rosan Roeslani, menegaskan proses pengajuan rating ke dua lembaga pemeringkat global itu sedang berjalan.
“Kita in the process to get rating dari S&P dan Moody’s sehingga ini memberikan lebih kepercayaan bahwa Danantara ini risikonya sangat terukur, terstruktur, dan memberikan hal yang positif mengenai Danantara. Jadi, ini kita sudah di-rating alhamdulillah dari Pefindo dan Fitch,” ujar Rosan dalam forum Economic Outlook 2026, belum lama ini.
Menurut Rosan, peringkat BBB stabil yang disematkan Pefindo dan Fitch sejajar dengan rating pemerintah Indonesia yang juga berada di level BBB dengan outlook stabil dari kedua lembaga tersebut. Hal ini dinilai memperkuat persepsi risiko Danantara sebagai entitas yang memiliki profil kredit terjaga.
Strategi Perkuat Kepercayaan Investor
Upaya meraih rating dari S&P dan Moody’s dipandang krusial untuk memperluas akses pendanaan global sekaligus meningkatkan kredibilitas Danantara di mata investor internasional. Rating dari tiga besar lembaga pemeringkat dunia menjadi referensi utama dalam pengambilan keputusan investasi lintas negara.
Dengan rating investment grade, biaya pendanaan (cost of fund) berpotensi lebih kompetitif, sekaligus membuka ruang diversifikasi instrumen pembiayaan.
Outlook Sovereign Indonesia: Stabil vs Negatif
Di sisi lain, dinamika rating pemerintah Indonesia menunjukkan variasi outlook dari lembaga pemeringkat global.
S&P Global Ratings mempertahankan outlook stabil terhadap sovereign rating Indonesia. Analis Sovereign S&P, Rain Yin, menilai pelemahan fiskal lebih lanjut berpotensi memberi tekanan terhadap rating. Namun, risiko tersebut dapat diimbangi jika terdapat perbaikan pada metrik kredit lainnya.
S&P menilai volatilitas pasar saham belakangan ini tidak secara material mengubah pandangan terhadap profil kredit Indonesia. Outlook stabil diberikan karena risiko kenaikan maupun penurunan rating relatif seimbang, di tengah prospek pertumbuhan ekonomi yang kuat namun basis ekspor dan penerimaan fiskal yang relatif sempit.
Senada dengan S&P, Fitch Ratings juga mengafirmasi outlook stabil Indonesia. Fitch menegaskan Peringkat Jangka Panjang Issuer Default Ratings (IDR) mata uang asing dan lokal Indonesia Investment Authority (INA) di level BBB, serta Peringkat Jangka Pendek IDR mata uang asing di F2.
Fitch menyebut afirmasi tersebut mencerminkan tingginya kemungkinan dukungan luar biasa dari pemerintah kepada INA sebagai entitas government related entity (GRE).
Berbeda dengan dua lembaga tersebut, Moody’s Ratings memangkas outlook Indonesia dari stabil menjadi negatif. Moody’s menilai terdapat kekhawatiran investor global terhadap kredibilitas kebijakan pemerintah, yang tercermin dari meningkatnya volatilitas pasar saham dan nilai tukar rupiah.
Moody’s juga menyoroti penurunan skor Indonesia dalam indikator tata kelola global, khususnya pada aspek efektivitas dan kualitas regulasi. Jika berlanjut, pelemahan konsistensi kebijakan dinilai berpotensi menekan daya tarik investasi dan meningkatkan biaya pinjaman pemerintah.
Implikasi bagi Danantara
Bagi Danantara, dinamika sovereign rating Indonesia menjadi faktor penting dalam proses penilaian risiko. Sebagai entitas investasi milik negara, persepsi terhadap dukungan pemerintah dan stabilitas fiskal akan menjadi pertimbangan utama lembaga pemeringkat global.
Apabila berhasil mengantongi rating dari S&P dan Moody’s dengan outlook stabil, posisi Danantara di pasar keuangan internasional berpotensi semakin solid, sekaligus memperkuat strategi pembiayaan jangka panjang.

