Menenun Harapan, Membaca NTT sebagai Sebuah Teks
Oleh: Agustinus Tetiro*
Memasuki 1 Juli 2026, kita resmi melangkah ke semester kedua tahun ini. Pergantian semester memang bukan sekadar penanda administratif dalam kalender, melainkan sebuah jeda reflektif. Ia mengajak kita berhenti sejenak, menoleh ke belakang untuk mengevaluasi langkah yang telah ditempuh, sekaligus memandang ke depan dengan semangat dan harapan yang diperbarui.
Bagi masyarakat Nusa Tenggara Timur (NTT), momentum ini memiliki makna yang lebih dalam. Di tengah berbagai tantangan pembangunan yang masih membayangi—kemiskinan, stunting, keterbatasan infrastruktur, kualitas pendidikan dan kesehatan, hingga persoalan ketimpangan antarwilayah—semester kedua merupakan kesempatan untuk meneguhkan kembali komitmen kolektif membangun daerah. Refleksi menjadi penting bukan untuk meratapi kekurangan, melainkan agar kita mampu membaca arah perjalanan dan memastikan setiap langkah berikutnya bergerak menuju masa depan yang lebih baik.
Dalam konteks itulah metafora menenun terasa begitu relevan untuk memahami NTT.
Bagi masyarakat Flores, Sumba, Timor, Alor, Lembata, Rote, Sabu, dan berbagai pulau lain di Flobamora, tenun bukan sekadar produk budaya atau komoditas ekonomi kreatif. Tenun adalah bahasa peradaban. Ia merupakan narasi yang diwariskan lintas generasi melalui benang, warna, motif, dan kesabaran. Di balik selembar kain tersimpan kisah tentang asal-usul, relasi manusia dengan alam, penghormatan kepada leluhur, nilai-nilai sosial, bahkan doa dan harapan akan masa depan.
Setiap helai benang memiliki tempatnya. Tidak ada motif indah yang lahir secara instan. Keindahan selalu merupakan hasil dari ketekunan, ketelitian, dan kemampuan menyatukan beragam warna menjadi harmoni. Barangkali, tidak ada metafora yang lebih tepat untuk menggambarkan pembangunan NTT selain proses menenun itu sendiri.
Pesan inilah yang belakangan sering disampaikan Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena. Dalam berbagai kesempatan, termasuk pada Festival Fulan Fehan di Kabupaten Belu, ia menegaskan bahwa kekayaan budaya NTT bukan sekadar warisan yang dipamerkan kepada wisatawan, melainkan modal sosial untuk membangun masa depan. Festival tersebut menjadi bukti bahwa kebudayaan dapat berfungsi sebagai diplomasi yang mempererat hubungan dengan Timor-Leste, Australia, maupun komunitas internasional lainnya.
Namun diplomasi budaya hanya akan bermakna apabila diikuti diplomasi pembangunan. Karena itu, ajakan Gubernur Melki untuk “menenun harapan” sesungguhnya merupakan ajakan membangun kolaborasi. Dalam perspektif ini, pemerintah bukan satu-satunya penenun. Dunia usaha, perguruan tinggi, organisasi masyarakat sipil, komunitas adat, diaspora NTT, media massa, hingga warga biasa adalah benang-benang yang sama pentingnya dalam membentuk kain besar bernama Nusa Tenggara Timur.
Selama satu setengah tahun terakhir, pendekatan kolaboratif itu mulai terlihat. Pemerintah Provinsi NTT aktif membuka ruang kerja sama dengan kementerian, lembaga negara, sektor swasta, organisasi nonpemerintah, hingga mitra internasional. Apa yang pernah saya sebut sebagai upaya “melipat jarak Kupang–Jakarta” (Tetiro, 2025) tampaknya bukan sekadar ungkapan retoris, melainkan strategi membangun jejaring agar NTT tidak lagi berdiri sendiri menghadapi berbagai persoalan pembangunan.
Kunjungan Presiden Prabowo Subianto, Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, serta sejumlah menteri dan wakil menteri ke NTT menunjukkan bahwa daerah ini mulai memperoleh perhatian yang lebih besar dalam agenda pembangunan nasional. Berbagai komitmen investasi dan program pembangunan yang mulai mengalir tentu patut diapresiasi. Kendati demikian, perhatian dari pusat bukanlah tujuan akhir. Yang jauh lebih penting adalah memastikan setiap program benar-benar menjawab kebutuhan masyarakat, memperkuat kapasitas daerah, serta menghasilkan manfaat yang berkelanjutan.
Di sisi lain, pembangunan tidak hanya berlangsung melalui kebijakan formal. Ia juga bertumbuh dari ruang-ruang sosial yang lebih dekat dengan kehidupan masyarakat. Dalam konteks inilah peran Ketua Dekranasda NTT, Mindriyanti Astiningsih Laka Lena, menjadi menarik untuk dicermati. Melalui berbagai peran yang diembannya—sebagai Ketua TP PKK, Bunda PAUD, Bunda Posyandu, Bunda Literasi, Bunda Guru, dan berbagai fungsi sosial lainnya—ia mencoba menjahit beragam gerakan menjadi satu simpul pemberdayaan perempuan dan anak.
Dalam forum Weaving Wonders di Jakarta beberapa waktu lalu, ia mengajak siapa pun yang memiliki niat baik untuk bergandengan tangan membangun NTT. Ajakan tersebut mengandung pesan penting bahwa pembangunan tidak akan pernah berhasil apabila hanya mengandalkan negara. Kemajuan daerah selalu merupakan hasil kerja bersama.
Namun, sebagaimana selembar kain tenun yang indah tidak pernah luput dari kemungkinan benang kusut, demikian pula NTT bukanlah ruang yang tanpa cela.
Di sinilah metafora kedua menjadi penting: NTT bukan hanya sebuah tenunan, tetapi juga sebuah teks.
Sebuah teks selalu mengundang pembacaan. Ia dapat dianalisis, ditafsirkan, dikritisi, bahkan direvisi. Dalam tradisi ilmu pengetahuan, setiap teks memerlukan kritik sumber dan kritik isi agar maknanya semakin utuh. Begitu pula NTT. Daerah ini harus terus dibaca secara jujur dan kritis. Data kemiskinan, kualitas sumber daya manusia, tantangan perubahan iklim, keterbatasan akses air bersih, persoalan pendidikan, hingga tata kelola pemerintahan tidak boleh ditutupi oleh romantisme budaya ataupun euforia pembangunan.
Mencintai NTT bukan berarti menolak kritik. Justru kritik yang lahir dari rasa memiliki merupakan bentuk cinta yang paling bertanggung jawab. Sahabat sejati bukanlah mereka yang selalu memuji, melainkan mereka yang berani menunjukkan benang kusut agar segera diperbaiki sebelum berubah menjadi sobekan yang lebih besar.
Karena itu, pembangunan NTT membutuhkan budaya dialog, keterbukaan, dan partisipasi publik. Pemerintah perlu membuka ruang kritik yang sehat, sementara masyarakat pun dituntut menghadirkan kritik yang berbasis data, argumentasi, dan solusi, bukan sekadar prasangka atau polarisasi. Hanya melalui cara itulah proses “menenun” dapat menghasilkan karya yang semakin indah.
Memasuki semester kedua tahun 2026, kita semua sesungguhnya sedang memegang benang yang sama. Tidak seorang pun berada di luar tenunan besar bernama NTT. Setiap gagasan, kerja, kritik, inovasi, doa, bahkan kepedulian kecil sekalipun merupakan simpul yang menentukan kualitas kain yang sedang kita rajut bersama.
Pada akhirnya, masa depan NTT tidak ditentukan oleh satu orang, satu institusi, ataupun satu periode kepemimpinan. Ia dibentuk oleh kemampuan seluruh anak daerah untuk terus membaca, memahami, mengoreksi, dan sekaligus menulis ulang kisah tentang tanah kelahirannya. Sebab NTT bukan hanya wilayah geografis yang kita huni. Ia adalah sebuah teks yang terus ditulis, sebuah tenunan yang terus disempurnakan, dan sebuah harapan yang hanya akan menjadi kenyataan apabila kita semua bersedia menjadi penenunnya.
Ayo Bangun NTT!
*)Agustinus Tetiro, administrator Grup Wartawan NTT Sedunia. Substansi opini ini otentik dari penulis, dengan bantuan teknis dari artificial intelligence/AI

