Sepak Bola (di) Amerika Serikat: Dari Benci Jadi Cinta
Oleh: Agustinus Tetiro*
Negara-negara lain menyambut sepak bola dengan relatif acuh tak acuh. India lebih terpikat oleh kriket, Australia memiliki rugby dan Australian rules football. Namun Amerika Serikat barangkali merupakan satu-satunya negara besar yang pernah secara terbuka mencurigai, bahkan membenci, sepak bola.
Itulah yang dicatat jurnalis dan mantan redaktur senior The New Republic, Franklin Foer, dalam bukunya How Soccer Explains the World: The Unlikely Theory of Globalization (2004). Bagi Foer, hubungan Amerika dengan sepak bola bukan sekadar soal olahraga, melainkan cerminan identitas sosial dan budaya sebuah bangsa.
Foer mengisahkan bahwa pada dekade 1980-an banyak warga kulit putih Amerika lebih menyukai bisbol dan American football. Basket dianggap terlalu dekat dengan budaya Afrika-Amerika, sementara sepak bola dipandang sebagai olahraga asing yang tidak mencerminkan nilai-nilai Amerika. Bahkan sebagian orang tua mengkhawatirkan risiko cedera akibat sundulan bola dan mempertanyakan mengapa anak-anak mereka harus memainkan olahraga yang nyaris tidak memiliki tradisi domestik.
Namun sejarah memiliki cara yang unik untuk membalikkan keadaan.
Menurut Foer, justru kelas profesional dan kelompok terdidik di Amerika yang kemudian mengadopsi sepak bola sebagai bagian dari gaya hidup mereka. Di kota-kota besar, lapangan sepak bola dipenuhi anak-anak keluarga kelas menengah dan profesional. Sementara komunitas imigran Amerika Latin terus menjadikan sepak bola sebagai bagian dari identitas budaya mereka. Perlahan tetapi pasti, olahraga yang dulu dianggap asing mulai menemukan rumahnya sendiri di Amerika Serikat.
Dua dekade setelah Foer menulis bukunya, transformasi itu terlihat semakin nyata.
Sabtu malam, 13 Juni 2026, Amerika Serikat membuka perjalanan mereka di Piala Dunia 2026 dengan kemenangan meyakinkan 4-1 atas Paraguay di Stadion SoFi, Inglewood, California. Di bawah asuhan Mauricio Pochettino, tim tuan rumah tampil percaya diri dan dominan sejak menit pertama. Kemenangan tersebut bukan sekadar tiga poin penting di Grup D, melainkan simbol dari perjalanan panjang sepak bola Amerika menuju arus utama budaya populer.
Yang menarik, atmosfer pertandingan lebih menyerupai sebuah peristiwa budaya global daripada sekadar laga olahraga.
Kamera siaran beberapa kali menyorot ke tribun kehormatan yang dipenuhi selebritas dunia. Aktor Hollywood Tom Cruise duduk berdampingan dengan legenda sepak bola Inggris David Beckham. Penyanyi Katy Perry tampil dalam upacara pembukaan dengan pesan persatuan yang disampaikan di hadapan puluhan ribu penonton. Deretan nama besar lain seperti George Lucas, Halle Berry, Rob Lowe, Owen Wilson, Sofia Vergara, Jamie Foxx, hingga Paris Hilton juga tampak hadir.
Bahkan Jason Sudeikis, aktor pemeran Ted Lasso yang menjadi simbol romantisme sepak bola dalam budaya populer Amerika modern, turut menyambut para penggemar sebelum pertandingan dimulai.
Pemandangan seperti itu mungkin sulit dibayangkan empat puluh tahun lalu ketika sepak bola masih menjadi olahraga pinggiran di Amerika Serikat. Kini, justru sepak bola menjadi panggung tempat Hollywood, industri hiburan, teknologi digital, dan identitas nasional bertemu dalam satu ruang yang sama.
Di sinilah Piala Dunia FIFA 2026 menjadi menarik untuk dibaca sebagai fenomena globalisasi.
Turnamen yang diselenggarakan bersama oleh Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko ini bukan hanya kompetisi olahraga terbesar di dunia. Ia juga merupakan ruang perjumpaan budaya, ekonomi, teknologi, dan identitas manusia dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Untuk memahami fenomena tersebut, pemikiran Johan Huizinga (1872-1945) dan Ernst Cassirer (1874-1945) menawarkan perspektif yang menarik.
Dalam karya Homo Ludens, Huizinga berpendapat bahwa manusia pada dasarnya adalah makhluk yang bermain. Permainan bukan sekadar aktivitas rekreasi, melainkan fondasi kebudayaan. Melalui permainan, manusia menciptakan aturan, membangun solidaritas, dan menghasilkan makna sosial.
Sepak bola adalah salah satu bentuk permainan yang paling berhasil melampaui batas-batas geografis dan politik. Selama Piala Dunia berlangsung, miliaran orang di berbagai belahan dunia memasuki arena simbolik yang sama. Mereka bersorak, kecewa, berharap, dan bermimpi bersama meskipun dipisahkan oleh ribuan kilometer.
Globalisasi membuat pengalaman bermain itu menjadi pengalaman kolektif dunia.
Namun Piala Dunia bukan hanya tentang bermain. Ia juga tentang makna.
Di sinilah gagasan Ernst Cassirer mengenai manusia sebagai homo symbolicum menjadi relevan. Cassirer meyakini bahwa manusia memahami dunia melalui simbol. Bahasa, seni, agama, mitos, hingga olahraga merupakan sistem simbol yang membantu manusia memberi arti pada kehidupannya.
Dalam Piala Dunia, simbol-simbol hadir di mana-mana. Bendera negara berkibar di tribun. Lagu kebangsaan dinyanyikan dengan penuh emosi. Seragam tim menjadi penanda identitas. Para pemain berubah menjadi pahlawan nasional. Bahkan kemenangan dan kekalahan memperoleh makna yang jauh melampaui hasil pertandingan itu sendiri.
Globalisasi memperkuat dimensi simbolik tersebut. Melalui televisi, media digital, dan media sosial, simbol-simbol sepak bola beredar secara instan ke seluruh dunia. Seorang anak di Indonesia dapat mengidolakan pemain Argentina, Brasil, Prancis, atau Amerika Serikat, karena mereka berbagi bahasa simbolik yang sama: sepak bola.
Dengan demikian, Piala Dunia 2026 memperlihatkan dua hakikat mendasar manusia sekaligus. Pertama, manusia sebagai homo ludens, makhluk yang membangun peradaban melalui permainan. Kedua, manusia sebagai homo symbolicum, makhluk yang menciptakan makna melalui simbol-simbol budaya.
Amerika Serikat yang dahulu mencurigai sepak bola kini justru menjadi pusat perayaan global olahraga tersebut. Dari sebuah olahraga yang pernah dianggap asing, sepak bola telah menjelma menjadi bahasa universal yang menyatukan manusia lintas bangsa.
Mungkin inilah ironi sekaligus keindahan globalisasi: apa yang dahulu ditolak, pada akhirnya dapat menjadi medium paling kuat untuk mempertemukan dunia.
*) Agustinus Tetiro, analis bola. Substansi artikel ini ditulis sang analis, dengan bantuan teknis dari artificial inteiligence/AI

