Ketika Kesabaran Sang Nenek Kecil Diuji Si Kutu Nakal
(Catatan Jelang Argentina vs Cabo Verde)
Oleh: Agustinus Tetiro*
Piala Dunia selalu melahirkan cerita-cerita yang melampaui skor dan statistik. Di balik riuh sorak penonton, di balik angka-angka yang memenuhi papan pertandingan, tersimpan kisah tentang manusia: tentang harapan, ketekunan, keberanian, dan nama-nama yang tiba-tiba menjadi bagian dari ingatan dunia.
Pertandingan babak 32 besar Piala Dunia 2026 antara Argentina dan Cabo Verde adalah salah satu kisah semacam itu. Di atas kertas, Argentina datang sebagai juara bertahan, diperkuat Lionel Messi—La Pulga, Sang Kutu—yang telah lama menempatkan dirinya di puncak sepak bola dunia. Sementara Cabo Verde adalah pendatang baru yang datang tanpa beban, tetapi dengan keyakinan yang dibangun dari perjalanan luar biasa. Mereka lolos dari fase grup tanpa sekalipun menelan kekalahan, bahkan mampu menahan Spanyol, Uruguay, dan Arab Saudi.
Namun, sorotan pertandingan ini bukan hanya tertuju kepada Messi. Di bawah mistar Cabo Verde berdiri seorang lelaki yang memiliki nama panggilan jauh lebih menarik daripada nama resminya, Josimar Jose Evora Dias. Dunia mengenalnya sebagai Vozinha.
Dalam bahasa Portugis, Vozinha berarti “nenek kecil”. Julukan itu bukan lahir dari lapangan hijau, melainkan dari masa kecilnya. Ia dibesarkan oleh kakek dan neneknya, dan tingkah lakunya yang lembut, tenang, bahkan sedikit menyerupai sang nenek, membuat orang-orang memanggilnya demikian. Sebuah nama yang terdengar sederhana, tetapi menyimpan kisah kasih sayang dan akar kehidupan.
Siapa sangka, “Nenek Kecil” itu kemudian berdiri menghadang para penyerang terbaik dunia.
Saat Cabo Verde berjumpa Spanyol, dunia mulai mengenal sosoknya. Berkali-kali ia menjinakkan peluang emas lawan dengan ketenangan yang nyaris tanpa ekspresi. Tidak ada selebrasi berlebihan. Tidak ada gestur dramatis. Hanya ketenangan seorang penjaga yang memahami tugasnya: menjadi benteng terakhir ketika semua lini telah ditembus.
Memang demikianlah hakikat seorang penjaga gawang. Ia sering menjadi orang yang paling sunyi di lapangan. Ketika rekan-rekannya menyerang, ia tetap berjaga. Ketika semua orang larut dalam euforia mencetak gol, ia tetap memikirkan ancaman berikutnya. Keberadaannya baru benar-benar terasa ketika keadaan menjadi genting.
Teolog sekaligus Uskup Agung Ende, Mgr. Paulus Budi Kleden, SVD, pernah merefleksikan sosok penjaga gawang sebagai pribadi yang harus mampu hidup dalam kesendirian tanpa kehilangan keberanian. Ia dituntut percaya diri, tetap tenang sebagai pengaman terakhir, sekaligus memelihara kepercayaan seluruh tim. Di balik kesunyian itu, ada tanggung jawab yang sangat besar.
Kini, di hadapannya berdiri La Pulga.
Julukan Lionel Messi juga lahir dari ukuran tubuhnya yang mungil. La Pulga berarti “Sang Kutu”. Namun, seperti kutu yang lincah dan sulit ditangkap, Messi bergerak dengan kelincahan yang kerap membuat pertahanan lawan kehilangan arah. Keterbatasan fisik justru menjelma menjadi kelebihan yang mengubah sejarah sepak bola modern.
Sebagai juara bertahan, Messi tentu ingin mengukir prestasi yang lebih agung: membawa Argentina menjuarai Piala Dunia untuk kedua kalinya secara beruntun. Di sisi lain, Vozinha membawa mimpi yang jauh lebih sederhana, tetapi tidak kalah indah. Ia ingin pulang dengan sebuah cerita yang kelak dapat ia wariskan kepada anak dan cucunya.
“Saya pernah bermain melawan pemain terbaik dunia, Lionel Messi.”
Kadang-kadang, sejarah memang sesederhana itu.
Maka, pertandingan ini terasa seperti sebuah metafora yang indah. Sang Kutu akan terus mencari celah, berlari ke sana kemari, mengganggu ketenangan benteng terakhir Cabo Verde. Sementara Sang Nenek Kecil berdiri dengan kesabaran yang telah ditempa oleh pengalaman hidup, mencoba mempersempit ruang gerak si kutu yang nakal.
Boleh jadi yang sedang kita saksikan bukan sekadar duel antara penyerang dan penjaga gawang, melainkan perjumpaan dua karakter besar: kelincahan melawan ketenangan, kreativitas melawan kesabaran, agresivitas melawan kebijaksanaan.
Semoga pertandingan ini tidak diwarnai kekerasan ataupun tindakan yang mencederai semangat olahraga. Sebab sepak bola, pada akhirnya, bukan hanya tentang menang dan kalah.
Mgr. Paulus Budi Kleden juga mengingatkan bahwa seorang penjaga gawang tidak cukup hanya menjadi pribadi yang soliter. Ia juga harus menjadi pribadi yang solider. Ketika terjadi benturan di depan gawang, sering kali kiper menjadi orang pertama yang mengulurkan tangan, baik kepada rekan sendiri maupun kepada lawan. Di sanalah sportivitas menemukan maknanya.
Harapan yang sama layak kita gantungkan kepada seluruh pemain di lapangan. Messi dan rekan-rekannya, demikian pula Vozinha bersama Cabo Verde, kiranya menghadirkan pertandingan yang bukan hanya berkualitas secara teknis, tetapi juga memperlihatkan keluhuran budi yang membuat sepak bola dicintai miliaran manusia.
Dan kita, para penonton, akan menikmati setiap gerak lincah Sang Kutu sekaligus belajar dari kesabaran Sang Nenek Kecil. Sebab, dari sebuah pertandingan sepak bola, kita sesungguhnya sedang belajar menjadi manusia: pribadi yang sanggup berdiri teguh dalam kesendirian, tetapi tidak pernah kehilangan kemampuan untuk tetap hadir bagi sesama.
*) Agustinus Tetiro, analis bola. Substansi artikel ini ditulis sang analis, dengan bantuan teknis dari artificial intelligence/AI

