Jakarta (tutur.co.id) – Direktur Eksekutif Lokataru Foundation Delpedro Marhaen Rismansyah menilai masalah Latihan Dasar Militer (Latsarmil) tak serta merta selesai dengan mengganti menjadi Latihan Pembekalan Bela Negara dan Manajerial. Menurut Delpedro, dibalik kasus ini ada hal penting lain yang perlu menjadi perhatian.
Menurut Delpedro, anggaran dari Latsarmil pantas ditelusuri mengingat jumlahnya yang sangat fantastis. Seperti diketahui, Latihan Dasar Militer untuk program Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) untuk koperasi desa dan koperasi nelayan Merah Putih ini menyedot anggaran Rp30 juta per orang.
Dan yang membuat Delpedro semakin yakin ada ‘udang di balik batu’ dari latihan ala-ala militer untuk pegawai koperasi itu dengan sikap ngotot Kementerian Pertahanan untuk tak menghapus model pelatihan itu dan hanya mengganti nama dengan Latihan Pembekalan Bela Negara. Intinya masih butuh kegiatan untuk dapat anggaran.
“Bisa dikatakan bahwa pendekatan pelatihan militerisme ini dipaksakan karena untuk mendapatkan keuntungan, begitu. Nah, oleh karena itu harus diusut siapa penerima manfaat dari keuntungan 30 juta per peserta ini terkait dengan pelatihan Kopdes. Bisa jadi kebijakan pelatihan tersebut, militerisme tersebut dipaksakan supaya ada anggaran sebanyak itu,” kata Delpedro kepada tutur, Selasa 30 Juni 2026.
Lebih lanjut Delpedro mengatakan, langkah Kementerian Pertahanan yang enggan meniadakan program pelatihan ala-ala militer untuk calon pegawai koperasi tersebut pantas dicurigai. Menurutnya ada kemungkinan besar memang ada pihak menikmati dari cairnya anggaran untuk pelatihan calon pegawai koperasi itu.
“Yang harus diusut adalah siapa penikmat daricairnya anggaran itu, begitu,” pungkas Delpedro.

