Toronto (Tutur.co.id) – Ketika Roberto Martinez ditunjuk sebagai pelatih Timnas Portugal pada awal 2023, banyak pihak mengernyitkan dahi. Keputusan Federasi Sepak Bola Portugal (FPF) dianggap mengejutkan karena Martinez baru saja mengakhiri periode enam tahunnya bersama Belgia tanpa satu pun gelar mayor.
Pertanyaan pun muncul: mengapa Portugal mempercayakan generasi emas mereka kepada pelatih yang dinilai gagal memaksimalkan potensi generasi emas Belgia? Dan yang lebih penting, apakah Portugal berisiko mengulangi kisah yang sama?
Pertanyaan tersebut kembali mengemuka setelah hasil mengecewakan pada laga pembuka Grup K Piala Dunia 2026. Portugal yang lebih diunggulkan hanya mampu bermain imbang 1-1 melawan DR Kongo, tim yang menjalani debutnya di Piala Dunia.
Hasil itu semakin menjadi sorotan karena Cristiano Ronaldo kembali gagal mencetak gol. Sang kapten kini tercatat menjalani 10 pertandingan beruntun tanpa gol di turnamen besar, rentetan terburuk sepanjang karier internasionalnya bersama Portugal.
Dari Klub Medioker ke Panggung Internasional
Sebelum dikenal sebagai pelatih tim nasional, Martinez membangun reputasinya di Inggris bersama sejumlah klub papan menengah. Karier kepelatihannya mulai mendapat perhatian saat membawa Swansea City promosi ke Championship pada 2008.
Setelah itu, ia melatih Wigan Athletic dan mencatatkan pencapaian terbesar dalam kariernya dengan menjuarai Piala FA musim 2012/13. Meski berhasil mempersembahkan trofi bersejarah bagi Wigan, klub tersebut tetap terdegradasi dari Premier League pada musim yang sama.
Martinez kemudian melanjutkan kariernya di Everton. Namun selama tiga musim di Goodison Park, ia gagal membawa The Toffees bersaing di papan atas maupun meraih trofi. Pada 2016, Everton memutuskan untuk mengakhiri kerja sama dengannya. Tak lama setelah pemecatan tersebut, peluang besar justru datang.
Kesempatan Emas Bersama Belgia
Pada 2016, Federasi Sepak Bola Belgia mencari pengganti Marc Wilmots yang gagal memenuhi ekspektasi di Euro 2016.
Belgia saat itu memiliki skuad bertabur bintang seperti Eden Hazard, Kevin De Bruyne, Romelu Lukaku, Thibaut Courtois, hingga Vincent Kompany. Mereka bahkan telah menduduki peringkat pertama FIFA dan dianggap sebagai salah satu generasi terbaik dalam sejarah sepak bola Belgia.
Penunjukan Martinez sempat menuai keraguan. Namun pelatih asal Spanyol tersebut berhasil meyakinkan federasi bahwa filosofi sepak bola menyerangnya cocok dengan karakter skuad Belgia yang penuh talenta. Hasilnya terlihat cukup menjanjikan pada awal masa kepemimpinannya.
Piala Dunia 2018: Puncak Era Martinez
Pencapaian terbesar Martinez bersama Belgia datang pada Piala Dunia 2018 di Rusia. Ia membawa Belgia mencapai semifinal sebelum akhirnya finis di posisi ketiga setelah mengalahkan Inggris pada perebutan tempat ketiga. Hasil tersebut menjadi pencapaian terbaik Belgia sepanjang sejarah Piala Dunia.
Kesuksesan itu membuat banyak pihak percaya bahwa generasi emas Belgia akhirnya menemukan sosok pelatih yang tepat. Namun kenyataannya tidak berlangsung lama.
Mengapa Generasi Emas Belgia Dianggap Gagal?
Setelah Piala Dunia 2018, Belgia gagal memenuhi ekspektasi pada dua turnamen besar berikutnya. Di Euro 2020, mereka tersingkir di perempat final. Sementara di Piala Dunia 2022, Belgia bahkan gagal lolos dari fase grup meski masih diperkuat sejumlah pemain berpengalaman.
Kegagalan tersebut memunculkan kritik terhadap Martinez. Banyak yang menilai ia terlalu loyal terhadap pemain senior dan gagal melakukan regenerasi pada waktu yang tepat. Selain itu, Belgia dinilai tidak pernah benar-benar berkembang secara taktis setelah sukses di Rusia 2018.
Meski demikian, Martinez menolak anggapan bahwa dirinya gagal. Secara statistik, ia tetap menjadi salah satu pelatih tersukses dalam sejarah Belgia dengan persentase kemenangan mencapai 70 persen. Namun dalam sepak bola internasional, pencapaian sering kali diukur dari trofi dan keberhasilan di turnamen besar.
Mengapa Portugal Memilih Roberto Martinez?
Setelah berakhirnya era Fernando Santos usai Piala Dunia 2022, Portugal sebenarnya memiliki banyak kandidat potensial. Nama-nama seperti Jose Mourinho, Paulo Fonseca, Rui Jorge, Sergio Conceicao, Ruben Amorim, hingga Andre Villas-Boas sempat dikaitkan dengan posisi tersebut.
Namun Portugal memiliki kriteria khusus. Mereka menginginkan pelatih yang memiliki pengalaman di level internasional, terbiasa menangani pemain kelas dunia, dan memahami tekanan turnamen besar.
Dalam proses seleksi itu, Martinez dianggap sebagai kandidat yang paling memenuhi profil yang dicari federasi. Pengalamannya membawa Belgia ke semifinal Piala Dunia menjadi nilai jual utama yang tidak dimiliki sebagian besar kandidat lainnya.
Apakah Portugal Akan Mengulangi Kisah Belgia?
Di atas kertas, Portugal memiliki materi pemain yang bahkan lebih lengkap dibanding Belgia pada masa puncaknya. Generasi baru yang dipimpin pemain-pemain seperti Bruno Fernandes, Rafael Leao, Joao Neves, Vitinha, Goncalo Ramos, dan Joao Felix menawarkan kombinasi kualitas teknis, kreativitas, serta kedalaman skuad yang luar biasa.
Selain itu, Martinez mewarisi fondasi yang kuat dan pemain yang terbiasa bersaing di level tertinggi Eropa. Namun hasil imbang melawan DR Kongo menunjukkan a kualitas individu saja tidak cukup.
Piala Dunia adalah turnamen yang menuntut fleksibilitas taktik, keberanian mengambil keputusan besar, dan kemampuan mengelola transisi generasi. Di sinilah Martinez akan diuji.
Apakah ia berani mengurangi ketergantungan pada Ronaldo demi memaksimalkan potensi generasi baru? Apakah ia mampu menghindari kesalahan yang pernah terjadi di Belgia? Jawaban atas pertanyaan tersebut akan sangat menentukan masa depan Portugal di Piala Dunia 2026.
Era Baru Portugal Sedang Diuji
Hasil imbang melawan DR Kongo mungkin baru satu pertandingan. Namun dalam turnamen pendek seperti Piala Dunia, satu hasil bisa mengubah arah perjalanan sebuah tim.
Bagi Roberto Martinez, laga tersebut bukan sekadar kehilangan dua poin. Hasil itu juga kembali membuka perdebatan lama yang terus mengikutinya sejak meninggalkan Belgia.
Jika Portugal gagal memenuhi ekspektasi di Piala Dunia 2026, maka narasi tentang Martinez sebagai pelatih yang tidak mampu mengantarkan generasi emas meraih trofi akan semakin sulit dibantah.
Sebaliknya, jika ia mampu membawa Portugal melangkah jauh dan mengakhiri ketergantungan pada Cristiano Ronaldo dengan mulus, maka Piala Dunia 2026 bisa menjadi panggung pembuktian terbesar dalam karier kepelatihannya.
Untuk saat ini, tanda tanya itu masih terbuka. Namun hasil imbang melawan DR Kongo dan rekor buruk Ronaldo telah menjadi peringatan awal bahwa Portugal belum sepenuhnya terbebas dari bayang-bayang kegagalan yang pernah menghantui Belgia.

