Jakarta (tutur.co.id) – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) masih menjadi perhatian publik seiring berbagai evaluasi yang dilakukan pemerintah. Namun, program makan gratis sekolah sebenarnya bukan hal baru karena telah lama diterapkan di berbagai negara sebagai bagian dari kebijakan pendidikan, kesehatan, dan perlindungan anak.
Finlandia menjadi salah satu pelopor program makan sekolah gratis di dunia. Negara tersebut telah menyediakan makanan gratis bagi seluruh siswa sejak 1948 atau lebih dari tujuh dekade lalu. Program makan sekolah Finlandia tak hanya bertujuan memastikan anak memperoleh asupan gizi yang cukup, tetapi juga mengajarkan pola makan sehat sebagai bagian dari proses pendidikan.
Di Jepang, makan siang sekolah juga menjadi bagian penting dari pembelajaran. Selain menerima makanan bergizi, siswa diajarkan tanggung jawab dan disiplin melalui kegiatan membagikan, menyajikan, hingga merapikan makanan bersama teman-teman mereka. Dalam beberapa tahun terakhir, semakin banyak pemerintah daerah di Jepang yang memperluas program makan gratis sekolah untuk membantu keluarga dan meningkatkan akses gizi anak.
Brasil menjalankan salah satu program makan sekolah terbesar di dunia dengan jutaan porsi makanan disajikan setiap hari kepada siswa di bawah pengawasan ahli gizi. Menariknya, sebagian bahan pangan yang digunakan wajib berasal dari petani lokal sehingga program tersebut tidak hanya mendukung gizi anak sekolah, tetapi juga membantu perekonomian daerah.
India juga memiliki program makan siang sekolah yang dikenal sebagai Mid-Day Meal Scheme. Program ini menjangkau jutaan siswa dan kerap disebut sebagai salah satu yang terbesar di dunia.
Selain membantu mengurangi masalah kekurangan gizi, program tersebut juga dikaitkan dengan peningkatan kehadiran dan partisipasi belajar siswa, terutama di wilayah yang masih menghadapi tantangan ekonomi.
Popularitas program makan gratis sekolah terus meningkat secara global. Menurut World Food Programme (WFP), sekitar 466 juta anak di seluruh dunia kini menerima makanan sekolah melalui program pemerintah, meningkat sekitar 20 persen dibandingkan beberapa tahun sebelumnya. Data ini menunjukkan semakin banyak negara yang melihat program makan sekolah sebagai investasi jangka panjang untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia.
Meski setiap negara menerapkan sistem yang berbeda, tujuan utamanya tetap sama, yaitu memastikan anak-anak dapat belajar dalam kondisi sehat, memperoleh gizi yang memadai, dan tidak mengalami kelaparan saat berada di sekolah. Karena itu, program semacam ini sering dipandang sebagai bagian dari strategi pembangunan yang berdampak langsung pada kualitas pendidikan dan kesehatan generasi muda.
Bagi Indonesia, evaluasi terhadap MBG dapat menjadi momentum untuk memperbaiki berbagai aspek pelaksanaan tanpa menghilangkan tujuan utamanya. Pengalaman negara-negara lain menunjukkan bahwa program makan gratis sekolah bukan sekadar bantuan sosial, melainkan investasi jangka panjang yang manfaatnya dapat dirasakan hingga masa depan.

