Jakarta (tutur.co.id) — Pemerintah menegaskan komitmennya untuk menjaga defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tetap berada di bawah ambang batas 3 persen. Ketegasan ini disampaikan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto di tengah dinamika ekonomi global yang masih dibayangi ketidakpastian.
Airlangga menekankan, proyeksi defisit APBN tidak akan dinaikkan dari rencana yang telah ditetapkan. Pemerintah, kata dia, memilih tetap berpegang pada prinsip kehati-hatian dan disiplin fiskal agar APBN dapat terus berfungsi sebagai penopang stabilitas ekonomi nasional.
“(Batas defisit APBN) tidak akan dinaikkan,” ujar Airlangga di Jakarta, Kamis (15/1/2026).
Dalam rancangan APBN 2026, Pemerintah menargetkan defisit sebesar 2,68 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), dengan batas atas maksimal 3 persen. Menurut Airlangga, kepastian ini menjadi sinyal positif bagi pelaku pasar dan investor, terutama dalam menjaga kepercayaan terhadap arah kebijakan fiskal Indonesia.
Keyakinan tersebut, lanjut Airlangga, ditopang oleh fundamental ekonomi nasional yang dinilai cukup kuat dan tangguh. Hingga saat ini, perekonomian Indonesia masih berada dalam kondisi relatif stabil meski tekanan global terus meningkat.
Pemerintah menilai ketahanan ekonomi nasional telah teruji, terutama setelah melewati berbagai tantangan dalam beberapa tahun terakhir. Dari sisi eksternal, kinerja ekspor Indonesia juga terus menunjukkan tren positif dan masih mampu memberikan kontribusi signifikan terhadap perekonomian.
Meski demikian, Airlangga mengakui tantangan global ke depan diperkirakan akan semakin kompleks. Karena itu, diversifikasi pasar dan komoditas ekspor menjadi salah satu strategi penting untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi.
“Sampai sekarang juga baik-baik saja. Jadi Indonesia ekonominya resilience,” pungkasnya.

