Jenewa (tutur.co.id) – Dunia belum benar-benar lepas dari bayang-bayang pandemi. Di tahun 2026, puluhan Negara kembali dikumpulkan mengikuti skenario yang sama, wabah besar yang menyebar cepat. Bedanya, kali ini semua dilakukan dalam bentuk simulasi, bukan kejadian nyata.
Latihan ini dilakukan oleh World Health Organization (WHO) melalui program bernama Exercise Polaris II. Kegiatan ini berlangsung selama dua hari dan melibatkan ratusan ahli kesehatan dari berbagai negara. Tujuannya sederhana tapi krusial, yaitu menguji kesiapan dunia menghadapi wabah yang datang tak bisa diprediksi.
Dalam simulasi tersebut, peserta dihadapkan pada skenario penyebaran bakteri baru yang menyebar lintas negara. Setiap negara diminta mengaktifkan sistem darurat mereka seolah-olah situasinya nyata. Mereka juga harus berbagi informasi, menyusun kebijakan, dan merespons secara cepat dalam tekanan waktu.
Total ada sekitar 26 negara dan wilayah yang ikut serta dalam latihan ini. Lebih dari 600 pakar kesehatan dan lebih dari 25 organisasi turut terlibat dalam koordinasi global. Skala ini menunjukkan bahwa kesiapan menghadapi pandemi bukan lagi urusan satu negara saja.
Latihan ini bukan yang pertama dilakukan oleh WHO. Sebelumnya, Polaris I sudah digelar pada 2025 dengan skenario virus fiktif. Pengalaman dari latihan sebelumnya digunakan untuk memperbaiki koordinasi dan respons di versi terbaru ini.
Menurut WHO, simulasi seperti ini penting untuk melihat apakah sistem benar-benar siap saat krisis terjadi. Dalam kondisi nyata, respons harus dilakukan dalam hitungan jam, bukan hari. Oleh karena itu latihan ini juga menguji kecepatan mobilasasi tenaga kesehatan dan alur komunikasi antarnegara.
Pesan utama dari latihan ini cukup jelas yaitu, ancaman wabah masih nyata dan bisa datang kapan saja. Meski dunia sudah belajar banyak dari COVID-19, kesiapan global masih perlu terus diperkuat. Simulasi seperti ini menjadi cara untuk memastikan bahwa saat krisis datang, dunia tidak lagi mulai dari nol.

