Jakarta (tutur.co.id) – Film dokumenter Pesta Babi tengah ramai diperbincangkan publik setelah beberapa acara nonton bareng atau nobarnya dilaporkan dibubarkan paksa di beberapa daerah. Lalu seperti apa sih cerita film ini sehingga sukses membuat gerah beberapa pihak?
Film karya Dandhy Laksono dan Cypri Paju Dale ini memang menarik perhatian karena mengangkat kehidupan masyarakat adat Papua di tengah proyek pembangunan skala besar di Papua Selatan. Garis besarnya, film ini memang mengangkat tema sosial yang penuh ketidakadilan.

Sinopsis Film Pesta Babi
sinopsis film Pesta Babi berfokus pada perubahan besar yang terjadi di wilayah Merauke, Boven Digoel, dan Mappi. Cerita dimulai ketika kapal besar membawa alat berat dan aparat masuk ke kawasan hutan adat yang selama ini menjadi ruang hidup masyarakat Papua.
Seiring berjalannya proyek tersebut, kawasan hutan perlahan berubah menjadi area industri, perkebunan, dan food estate. Dari situ, konflik mulai muncul ketika warga mencoba mempertahankan tanah leluhur mereka di tengah tekanan pembangunan dan operasi keamanan.
Film berdurasi sekitar 95 menit tersebut menampilkan kehidupan masyarakat adat seperti suku Marind, Awyu, Yei, dan Muyu yang disebut terdampak proyek perkebunan tebu, sawit, hingga bioetanol. Dari sudut pandang warga lokal, perubahan itu bukan hanya soal pembangunan, tetapi juga ancaman terhadap tanah leluhur, budaya, dan ruang hidup mereka.
Yang membuat film Pesta Babi terasa kuat adalah pendekatannya yang minim dramatisasi. Penonton diajak melihat langsung bagaimana komunitas adat menghadapi ketakutan kehilangan tanah, hutan, hingga identitas budaya mereka sendiri.

Simbol Salib Merah dan Makna Judul
Dalam beberapa adegan, masyarakat adat juga diperlihatkan memasang salib merah di kawasan hutan sebagai simbol penolakan terhadap pembukaan lahan dan perampasan ruang hidup mereka. Simbol tersebut kemudian menjadi bagian penting dari gerakan perlawanan masyarakat adat Papua Selatan.
Judul Pesta Babi sendiri diambil dari tradisi budaya masyarakat Papua yang menjadikan babi sebagai simbol sosial dan bagian penting dalam ritual adat.
Di dalam film, istilah tersebut juga dipakai sebagai metafora untuk menggambarkan situasi ketika tanah dan hutan adat perlahan berubah menjadi kawasan industri dan proyek besar.
Nobar Film Pesta Babi Dibubarkan
Selain isi filmnya, kontroversi pembubaran acara nobar membuat dokumenter ini semakin viral di media sosial. Banyak publik akhirnya penasaran dengan isi film karena Pesta Babi dianggap mengangkat isu Papua dari sudut pandang yang jarang muncul di media arus utama.
Film Pesta Babi juga melibatkan sejumlah organisasi dan komunitas seperti WatchDoc, Greenpeace Indonesia, Jubi Media, hingga LBH Papua Merauke. Di tengah ramainya perdebatan publik yang terus berkembang, dokumenter ini akhirnya menjadi salah satu film dokumenter Indonesia yang paling banyak dibicarakan dalam beberapa waktu terakhir.
Lewat dokumenter ini, Pesta Babi tidak hanya menjadi tontonan, tetapi juga membuka ruang diskusi tentang tanah, identitas, dan masa depan masyarakat adat Papua.

