Jakarta (tutur.co.id) — Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak atau Organization of the Petroleum Exporting Countries merevisi turun proyeksi pertumbuhan permintaan minyak global pada 2026. Dalam laporan pasar minyak bulanannya yang dirilis Rabu (13/5), OPEC memperkirakan permintaan minyak dunia akan tumbuh sebesar 1,2 juta barel per hari (bph) secara tahunan (year on year/yoy), lebih rendah dibandingkan proyeksi sebelumnya sebesar 1,4 juta bph.
Revisi ini menunjukkan perlambatan ekspektasi pertumbuhan permintaan energi global dalam jangka menengah, meski OPEC masih menilai tren konsumsi minyak tetap “solid”. Penyesuaian tersebut mencerminkan dinamika ekonomi global, perubahan pola konsumsi energi, serta ketidakpastian pemulihan di sejumlah wilayah.
Untuk tahun 2027, OPEC justru merevisi naik proyeksi pertumbuhan permintaan minyak global menjadi sekitar 1,5 juta bph yoy, meningkat sekitar 200.000 bph dari estimasi sebelumnya. Kenaikan ini mengindikasikan ekspektasi pemulihan permintaan yang lebih kuat dalam jangka lebih panjang.
Dari sisi regional, OPEC memperkirakan permintaan minyak di negara-negara anggota Organisation for Economic Co-operation and Development akan tumbuh sekitar 100.000 bph pada 2026, sementara di negara-negara non-OECD diproyeksikan meningkat lebih besar, yakni sekitar 1,1 juta bph.
Pada 2027, pola serupa diperkirakan berlanjut, dengan permintaan di negara OECD naik sekitar 200.000 bph, sedangkan negara non-OECD mencatat pertumbuhan sekitar 1,3 juta bph. Dominasi pertumbuhan dari negara non-OECD ini menunjukkan bahwa konsumsi energi global masih ditopang oleh ekonomi berkembang.
OPEC menilai bahwa meskipun ada pergeseran menuju energi yang lebih bersih di berbagai negara, minyak masih akan memainkan peran penting dalam struktur energi global dalam beberapa tahun ke depan.

