Jakarta (tutur.co.id) – Ekonom Senior Universitas Paramadina, Wijayanto Samirin menilai pernyataan Presiden Prabowo Subianto soal masyarakat desa yang tidak perlu khawatir terhadap pelemahan rupiah. Narasi tersebut dinilai lebih tepat dipahami sebagai pesan untuk membangun optimisme publik. Menurutnya, narasi tersebut dapat dimaknai sebagai upaya menenangkan masyarakat di tengah tekanan ekonomi global.
Namun, Wijayanto menegaskan pernyataan semacam itu tidak tepat dijadikan pijakan dalam penyusunan kebijakan ekonomi nasional. Ia menilai pelemahan nilai tukar rupiah tetap memiliki dampak luas terhadap perekonomian, termasuk harga barang impor, inflasi, dan daya beli masyarakat. Karena itu, kebijakan ekonomi dinilai harus tetap berbasis data dan mempertimbangkan dinamika pasar global secara menyeluruh.
