Jakarta (Tutur.co.id) – Pernyataan Saiful Mujani, pendiri Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC), dalam sebuah acara halal bihalal pengamat menjadi trending dalam beberapa hari ini. Ajakan untuk menjatuhkan Presiden Prabowo Subianto jika tak mau mendengar kritik langsung ditanggapi beberapa pihak sebagai tindakan makar.
Tanggapan dari beberapa pihak termasuk dari lingkaran istana yang menuding pernyataan Mujani itu sebagai Tindakan makar sangat disesalkan pengamat politik Ray Rangkuti. Menurutnya, pernyataann Mujani tersebut sejatinya buah dari pernyataan Presiden Prabowo yang ingin menertibkan para pengamat.
“Sangat disesalkan, kata-kata yang terasa memangkas kebebasan bersuara terus bermunculan dari lingkungan istana. Sebelumnya, presiden sendiri menyebut akan menertibkan para pengamat, orang-orang sebagai antek asing, kini, kata makar mulai disematkan kepada pengamat,” kata Ray Rangkuti kepada redaksi, Minggu 5 April 2026.
Masih menurut Ray Rangkuti, dua rangkaian yang entah terjadi secara kebetulan atau memang kerja sistemik, tudingan makar tentu sangat disayangkan. “Sekarang kata makar mulai dpergunakan pada sebuah pidato. Apakah ini salah satu bentuk dari penertiban itu?” lanjut Ray Rangkuti.
Tentu saja, lanjut Ray Rangkuti, pihak istanalah yang paling tahu apakah penyematan kata makar pada pidato pengamat itu bagian dari rangkaian penertiban itu atau tidak. Sebagaimana juga, hanya istana yang tahu, apakah pernyematan kata makar itu atas sepengetahuan presiden atau hanya inisiatif personal para staf beliau.
“Apakah presiden bermaksud menyetarakan kata penertiban dengan makar. Jika tidak, maka sudah semestinya presiden menertibkan para pembantunya terlebih dahulu agar tidak menyebar narasi ketakutan baru yang dapat menggerus popularitas dan kesukaan publik atasnya,” tambah Ray Rangkuti.
Dalam kesempatan ini, Ray Rangkuti juga menilai sikap berlebihan di lingkaran istana dalam menanggapi setiap kritikan ini sebagai bentuk kepanikan atau bentuk rasa tak percaya diri.
“Biasanya, kata makar diumbar justru menandakan ada kepanikan dan kebingugan di lingkungan istana. Tanda rasa percaya diri menurun, dan kekuasaan mulai kehilangan sentuhan persuasi,” pungkas Ray Rangkuti.

