Jakarta (tutur.co.id) — Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali menaikkan tensi geopolitik dengan Iran. Melalui pernyataan terbarunya, Trump berencana memberlakukan tarif impor hingga 25 persen terhadap negara-negara yang masih menjalin hubungan bisnis dengan Republik Islam Iran. Kebijakan tersebut dimaksudkan sebagai bentuk tekanan lanjutan Washington terhadap Teheran.
Rencana itu disampaikan Trump melalui unggahan di akun resmi Truth Social. Ia menegaskan kebijakan tersebut bersifat final dan mengikat, meski hingga kini belum dituangkan dalam dokumen resmi Gedung Putih.
“Mulai sekarang juga, negara mana pun yang berbisnis dengan Republik Islam Iran akan dikenakan tarif sebesar 25 persen untuk semua bisnis yang dilakukan dengan Amerika Serikat,” tulis Trump, seperti dilansir Al Jazeera, Kamis (15/1/2026).
Tekanan terbaru ini muncul di tengah situasi domestik Iran yang kian bergejolak. Dalam beberapa dekade terakhir, Iran menghadapi gelombang protes besar, bersamaan dengan kondisi ekonomi yang memburuk akibat sanksi Barat. Inflasi melonjak, tingkat pengangguran meningkat, dan nilai mata uang rial terus tertekan.
Trump juga secara terbuka memperingatkan pimpinan Iran mengenai kemungkinan opsi militer Amerika Serikat. Namun, peringatan itu tidak menyurutkan sikap Teheran. Pemerintah Iran menegaskan tidak gentar menghadapi ancaman tersebut.
“Jika AS ingin menguji opsi militer yang pernah mereka uji sebelumnya, kami siap untuk itu,” ujar Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi.
Ancaman tarif 25 persen ini berpotensi berdampak luas terhadap peta perdagangan global, terutama bagi negara-negara yang selama ini menjadi mitra utama Iran.
Menurut laporan Al Jazeera, China menjadi salah satu pihak yang paling terdampak. Negeri Tirai Bambu tercatat sebagai mitra dagang terbesar Iran, dengan nilai perdagangan lebih dari 13 miliar dolar AS pada 2024. Data Bank Dunia menunjukkan volume perdagangan kedua negara mencapai 37 miliar dolar AS pada 2022, sementara pada 2025 China mengimpor sekitar 80 persen minyak Iran.
Selain China, Turki juga masuk dalam daftar mitra dagang utama Iran. Berdasarkan data UN Comtrade 2024, nilai perdagangan kedua negara mencapai 5,7 miliar dolar AS, menjadikan Turki sebagai mitra terbesar kedua Iran.
Pakistan dan India turut tercatat sebagai tujuan ekspor penting bagi Iran. Pakistan membukukan nilai perdagangan sekitar 1,2 miliar dolar AS pada 2024, sementara India mencatat nilai ekspor Iran sebesar 1,05 miliar dolar AS pada periode yang sama.
Langkah Trump ini diperkirakan akan menambah kompleksitas hubungan dagang global, sekaligus menguji posisi negara-negara mitra Iran dalam menyeimbangkan kepentingan ekonomi dengan tekanan politik dari Amerika Serikat.

