Jakarta (Tutur.co.id) – Nama Nina Agustina kembali menjadi sorotan. Mantan Bupati Indramayu yang juga anak dari mantan Kapolri Da’i Bachtiar ini membuat langkah politik yang menggemparkan dengan meninggalkan PDI Perjuangan dan gabung Partai Solidaritas Indonesia (PSI).
Langkahnya mempermalukan PDI Perjuangan dilengkapi dengan sowan ke rumah Joko Widodo yang diklaim akan menjadi ikon kebangkitan PSI. Bahkan tanpa tedeng aling-aling, Nina Agustina menjadi Presiden RI ke 7 itu sebagai magnet kuat yang membuatnya mengambil langkah gabung PSI.
Latar Belakang & Pendidikan
Nina Agustina lahir pada 17 Agustus 1973 di Kecamatan Purwodadi, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah. Ia merupakan putri dari Jenderal (Purn) Da’i Bachtiar, mantan Kepala Kepolisian Republik Indonesia, sehingga sejak awal memiliki latar belakang keluarga yang kuat dalam dunia kepemimpinan publik.
Pendidikan formalnya mencakup sekolah menengah di beberapa SMA di Jawa Tengah, termasuk SMA Negeri 1 Boyolali dan SMA Negeri 1 Klaten. Ia kemudian melanjutkan studi tinggi di Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Jakarta, meraih gelar Sarjana (S1) dan kemudian Magister (S2) di institusi yang sama, serta memiliki sertifikasi profesional di bidang manajemen risiko.
Karier & Pencapaian
Nina memulai karier profesionalnya tidak hanya sebagai politisi, namun juga sebagai praktisi hukum dan pebisnis. Ia pernah menjabat sebagai Managing Partner di NDB Law Firm & Partners, Direktur Utama PT Delta Buana Pratama, Komisaris PT Dinda Abadi, serta Ketua Yayasan Dai An Nur di Indramayu.
Dalam politik, ia aktif di PDI-Perjuangan sejak 2016 sebagai salah satu tokoh penting bidang hukum serta organisasi nelayan dan pertanian, sebelum akhirnya terpilih sebagai Bupati Indramayu periode 2021–2024 bersama pasangannya, Lucky Hakim, usungan koalisi beberapa partai.
Sebagai bupati, Nina berfokus pada pembangunan infrastruktur, peningkatan kesejahteraan masyarakat, dan percepatan layanan publik. Di bawah kepemimpinannya, Indramayu mencatat peningkatan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) dari Rp3,5 triliun menjadi Rp3,8 triliun, peningkatan laju pertumbuhan ekonomi, serta program sosial seperti perluasan kepesertaan BPJS Kesehatan.
Kontroversi & Karakteristik Unik
Selama karier politiknya, Nina pernah menjadi sorotan publik ketika sebuah video viral menunjukkan dirinya berbicara dengan nada emosional kepada warga saat kampanye Pilkada, bahkan menyebut identitasnya sebagai anak mantan Kapolri dalam menghadapi situasi tersebut — hal ini memicu banyak reaksi dan debat di media sosial.
Beberapa karakteristik yang menonjol darinya antara lain gaya kepemimpinan sering terjun langsung ke masyarakat dalam mengatasi persoalan lokal. Ia juga sangat aktif dalam usaha mendorong pemberdayaan perempuan melalui berbagai program pemerintah kabupaten, termasuk pelatihan kewirausahaan dan peningkatan partisipasi sosial.

