Jakarta (tutur.co.id) — Pasar Surat Berharga Negara (SBN) diperkirakan masih menghadapi dinamika yang menantang pada awal 2026. Tekanan arus keluar modal asing, pelemahan nilai tukar rupiah, serta meningkatnya risiko fiskal domestik menjadi faktor utama yang mendorong tren kenaikan imbal hasil (yield), terutama pada SBN tenor panjang.
Ekonom Core Indonesia Yusuf Rendy Manilet mengungkapkan, tekanan di pasar obligasi mulai terasa sejak pekan ketiga Januari 2026. Berdasarkan data transaksi, investor asing mencatatkan jual bersih (net sell) sekitar Rp5,9 triliun, yang secara bertahap mendorong kenaikan yield obligasi pemerintah.
Di sisi lain, nilai tukar rupiah yang mendekati level Rp16.790 per dolar AS turut meningkatkan premi risiko yang diminta investor.
“Kombinasi tekanan eksternal dan isu fiskal domestik membuat minat investor untuk menahan kepemilikan SBN berdurasi panjang berkurang, sehingga yield bergerak dalam tren naik,” ujar Yusuf, Minggu (25/1/2026).
Selain faktor nilai tukar, pelaku pasar juga mencermati posisi defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang mendekati ambang batas 3% terhadap produk domestik bruto (PDB). Kekhawatiran atas terbatasnya ruang fiskal serta potensi shortfall penerimaan pajak membuat investor bersikap lebih defensif.
Situasi tersebut berpotensi memicu crowding out effect, di mana kenaikan yield SBN memaksa emiten korporasi menawarkan kupon yang lebih tinggi agar tetap menarik minat investor.
Meski demikian, Yusuf menilai penerbitan obligasi korporasi pada 2026 tetap akan berlanjut seiring kebutuhan refinancing yang cukup besar. Namun, investor diperkirakan akan jauh lebih selektif dan cenderung mengarahkan dana ke sektor-sektor defensif seperti energi, infrastruktur, serta consumer staples yang dinilai lebih tahan terhadap tekanan suku bunga.
Menjelang lelang Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) pada Selasa (27/1/2026) dengan target indikatif Rp11 triliun, pasar menilai jumlah penerbitan tersebut masih tergolong moderat dan relatif mudah diserap. Kendati demikian, tingkat oversubscription diperkirakan tidak setinggi periode awal tahun sebelumnya.
Minat investor asing juga diprediksi belum dominan, mengingat volatilitas rupiah yang masih tinggi serta ketidakpastian global yang belum sepenuhnya mereda. Dengan kondisi tersebut, permintaan dalam lelang SBSN kali ini diperkirakan akan lebih banyak ditopang oleh likuiditas domestik, terutama dari perbankan, dana pensiun, dan perusahaan asuransi.
Untuk arah yield, Yusuf menilai benchmark SBN tenor 10 tahun—yakni seri PBS acuan—masih memiliki bias kenaikan atau berada dalam kondisi bearish. Investor diperkirakan akan meminta kompensasi imbal hasil yang lebih tinggi untuk menutup risiko nilai tukar dan kekhawatiran fiskal.
Jika pada lelang sebelumnya yield berada di kisaran 6,4%–6,7%, pasar mulai merespons dengan mendorong yield ke level yang lebih tinggi, berpotensi menyentuh rentang 6,7%–6,8%.
“Kenaikan yield tersebut sejalan dengan meningkatnya preferensi investor untuk menempatkan dana pada instrumen dengan durasi yang lebih pendek,” jelasnya.
Dalam konteks strategi investasi, Yusuf menilai investor akan menghindari tenor yang terlalu panjang dan lebih memilih seri-seri dengan jatuh tempo pendek hingga menengah guna menjaga keseimbangan antara imbal hasil dan risiko volatilitas harga.
Seri PBS030 yang jatuh tempo sekitar 2028 dinilai berpeluang menjadi salah satu primadona karena berada pada rentang durasi yang relatif aman. Selain itu, apabila tersedia, seri Green Sukuk seperti PBSG juga berpotensi tetap diminati karena memiliki basis investor berbasis ESG yang cenderung lebih stabil.
Meski pasar masih berada dalam fase kehati-hatian, Yusuf optimistis lelang SBSN ke depan tetap berpeluang diserap dengan baik, didukung oleh kuatnya likuiditas domestik pada awal tahun.
“Pasar akan terus mencermati perkembangan global, terutama arah suku bunga acuan The Federal Reserve, kebijakan bank sentral regional, serta stabilitas nilai tukar rupiah,” pungkasnya.

