Jakarta (tutur.co.id) — Harga emas batangan PT Aneka Tambang Tbk. (ANTM) atau emas Antam diperkirakan masih melanjutkan tren penguatan dan berpotensi mencetak rekor tertinggi baru dalam sepekan ke depan. Pergerakan harga emas Antam diproyeksikan berada di kisaran Rp2.752.000 hingga Rp3.092.000 per gram.
Harga emas Antam pada Sabtu (25/1/2026) ditutup di level Rp2.887.000 per gram. Dari sisi teknikal, terdapat sejumlah level krusial yang perlu dicermati oleh investor.
“Jika terjadi koreksi, support pertama berada di Rp2.852.000 per gram dan support kedua di Rp2.752.000,” tutur pengamat pasar komoditas Ibrahim Assuaibi dalam keterangannya, Minggu (25/1/2026).
Sebaliknya, demikian Ibrahim, jika tren penguatan berlanjut, harga emas Antam diperkirakan menghadapi resistance pertama di level Rp2.992.000 per gram pada awal pekan depan. Untuk horizon sepekan, resistance berikutnya berada di kisaran Rp3.092.000 per gram.
Ibrahim menjelaskan, kenaikan harga emas dunia dan logam mulia saat ini didorong oleh sejumlah faktor utama, mulai dari ketegangan geopolitik global, dinamika perang dagang, kondisi politik Amerika Serikat, hingga faktor supply dan demand.
Dari sisi geopolitik, meredanya polemik Greenland sempat membawa sentimen positif setelah adanya kesepakatan bahwa Amerika Serikat dapat mengakses wilayah tersebut bersama NATO. Secara teori, kondisi ini seharusnya menekan harga emas. Namun, tensi geopolitik global belum sepenuhnya mereda.
Menurut Ibrahim, upaya Presiden Amerika Serikat Donald Trump dalam memprakarsai perdamaian, baik di kawasan Uni Eropa maupun konflik Gaza, belum mendapatkan dukungan penuh dari negara-negara Eropa. Hubungan antara Amerika Serikat dan Uni Eropa pun masih diwarnai ketegangan.
Selain itu, pergerakan armada laut Amerika Serikat dari Laut China Selatan ke kawasan Timur Tengah turut meningkatkan kekhawatiran pasar. Situasi ini diperburuk oleh potensi eskalasi konflik Israel-Iran, khususnya terkait isu demonstran dan pengembangan reaktor nuklir, yang berisiko memicu aksi militer.
Ketegangan juga terjadi di kawasan Amerika Latin. Amerika Serikat diketahui melakukan blokade minyak terhadap Kuba, di tengah meningkatnya tekanan geopolitik setelah penangkapan Presiden Venezuela. Padahal, Kuba selama ini sangat bergantung pada pasokan minyak dari Venezuela.
Sementara dari sisi perang dagang, meski Amerika Serikat dan Eropa telah mencapai kesepakatan untuk tidak menambah tarif baru, ketidakpastian masih membayangi pasar. Tarif dagang sebesar 15% dijadwalkan tetap berlaku pada Februari 2026, setelah sebelumnya mengalami kenaikan tambahan hingga 25%.
Faktor politik domestik Amerika Serikat juga turut menopang harga emas. Ibrahim menyoroti penunjukan calon gubernur Bank Sentral Amerika Serikat (The Fed) yang dinilai dekat dengan Trump.
“Empat kandidat yang sudah disetujui merupakan figur bawaan Trump. Ada kecenderungan Kevin Hassett dan Kevin Warsh yang akan mengisi posisi tersebut,” ujarnya.
Dari sisi fundamental, tren akumulasi emas oleh bank sentral global masih berlanjut. Bank Sentral China tercatat terus menambah cadangan devisanya dalam bentuk emas. Hal serupa dilakukan oleh Bank Sentral Rusia, India, Eropa, hingga Bank of England.
“Mereka menyadari kondisi ekonomi global yang tidak stabil. Emas menjadi instrumen lindung nilai utama di tengah ketidakpastian,” kata Ibrahim.
Di dalam negeri, meski nilai tukar rupiah cenderung menguat, ketidakseimbangan supply dan demand emas fisik masih terjadi. Keterbatasan pasokan dan meningkatnya minat masyarakat membuat harga tetap bertahan tinggi. Dalam kondisi tersebut, emas digital dinilai menjadi salah satu alternatif investasi yang semakin diminati.

